PENELITIAN NYALI DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO DAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK, JAWA BARAT, INDONESIA

ABSTRAK: Penelitian  tentang  nyali  (meliputi  pengamatan  di  lapangan  dan  di  laboratorium  dan  pengkoleksian  nyali  di  lapangan)  telah  dilakukan  di Taman  Nasional  Gunung  Gede  Pangrango  (TNGGP)  dan  Taman  Nasional  Gunung  Halimun  Salak  (TNGHS).  Koleksi  dan  pengamatan difokuskan pada bentuk nyali, jenis inangnya dan bagian yang terserang. Hasil pengamatan didapatkan sekitar 169 dan 127 nomor koleksi nyali dari TNGGP dan TNGHS. Persebaran jenis-jenis tumbuhan yang memiliki nyali hampir sama di kedua kawasan konservasi tersebut. Di  TNGHS,  tujuh suku  yang paling banyak diinfeksi  oleh  nyali:  Araceae  4  species dari 5  nomor koleksi  gall dalam  suku  tersebut  (=4/5), Elaeocarpaceae  (5/5),  Euphorbiaceae  (7/9),  Lauraceae  (8/11),  Melastomaceae  (4/4),  Moraceae  (6/7)  dan  Rubiaceae  (9/12).  In  TNGGP komposisi  tersebut  hanya  sedikit  berbeda:  Araliaceae  (4/6),  Euphorbiaceae  (8/13),  Lauraceae  (9/12),  Melastomaceae  (5/6),  Moraceae (13/22), Myrtaceae (9/11) dan Rubiaceae (6/13). Setidaknya ada 23 bentuk nyali yang dapat ditemukan di kedua kawasan penelitian. Bentuk nyali  yang  umum  ditemukan  di  TNGGP  adalah  bentuk  tidak  beraturan,  sedangkan  di  TNGHS  adalah  bentuk  bulat.  Sekitar  90%  nyali ditemukan di  daun  (termasuk tangkai  dan  tulang daun), nyali  lainnya  dapat ditemukan di batang,  percabangan batang,  ranting, bunga dan buah.  Serangga  penyebab  nyali  paling  banyak  adalah  agas  (54,4%),  diikuti  oleh  tungau  (18,5%),  kutu  loncat  (11,1%),  trips  (6,3%),  kutu sisik (1,9%) dan kutu kebul (1,9%). 
Kata kunci: Nyali, kawasan konservasi, Gede Pangrango, Halimun Salak, keragaman, serangga
Penulis: Erlin Rachman, Eka Fatmawati Tihurua dan Sunaryo
Kode Jurnal: jpbiologidd140956

Artikel Terkait :