FAKTOR RESIKO MUNCULNYA Plasmodium spp. RESISTEN DI KECAMATAN TAPALANG, SULAWESI BARAT

Abstrak:  Resistensi obat anti-malaria harus diantisipasi secara dini karena belum ada obat yang  dapat  menggantikan  terapi  lini  pertama  terkini,  Artemisinin  based  combination  therapy (ACT). Karena itu organisasi kesehatan dunia WHO menetapkan beberapa langkah untuk meng-hindari atau mengatasi munculnya parasit Plasmodium yang resisten terhadap obat tersebut. Pene-litian ini bertujuan untuk mengidentifikasi  faktor-faktor yang meningkatkan resiko timbulnya re-sistensi parasit  di daerah endemik  malaria  di  Kecamatan  Tapalang, Sulawesi Barat. Delapan  pa-sien positif  malaria  menjalani  pengobatan dengan  artesunat-amodiakuin (AS-AQ) selama 3 hari. Pasien di-follow up selama  masa  pengobatan untuk melihat atau menanyakan efek samping obat yang  dialami  yang  dapat  mempengaruhi  kepatuhan  pasien  terhadap  prosedur  pengobatan.  Efek samping  yang  terbanyak  adalah  mual  (50%),  muntah  (37,5%),  lemas  (25%)  dan  sakit  kepala (25%).  Selain  itu  dilakukan  wawancara  terhadap  petugas  kesehatan  mengenai  cara  pemberian  AS-AQ. Dari wawancara diketahui bahwa AS-AQ biasanya diberikan dalam dosis terbagi dalam sehari,  sehingga  berpotensi  menyebabkan  dosis  obat  yang  kurang  optimal.  Adanya  potensi  ku-rangnya  kepatuhan pengobatan akibat efek samping  obat  yang  mengganggu dan  dosis obat  yang kurang optimal merupakan faktor resiko resistensi terhadap ACT. 
Kata  kunci:  resistensi  obat  anti-malaria,  efek  samping  artesunate-amodiakuin,  profil farmakokinetik artesunat
Penulis: Yenni Yusuf
Kode Jurnal: jpbiologidd140996

Artikel Terkait :