CENDAWAN PENYEBAB ABORTUS DALAM ALAT REPRODUKSI SAPI BETINA
ABSTRAK: Penelitian tentang kasus aborsi pada sapi
yang disebabkan oleh
cendawan selama ini
belum pernah ditemukan laporannya di
Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data
prevalensi sapi yang tidak dan yang pernah mengalami aborsi, dan sapi sehat
yang dihubungkan dengan hasil isolasi cendawan. Penelitian meliputi survei
lapangan dan pemeriksaansampel di laboratorium. Sampel tersebut diambil dari
sapi betina yang pernah mengalami aborsi atau sapi yang mengalami kawin
berulang (repeated breeding), dan sampel semen kering beku (freeze dried semen)
untuk inseminasi buatan, dan kasus aborsi yang sedang terjadi. Sampel diambil di
Kabupaten Sukabumi dan Bandung, dan lalu dibiakkan di Agar Sabouraud Dextrosedengan cara diulaskan
di permukaan media, untuk selanjutnya diinkubasi pada suhu 37oC.
Jumlah sampel yang diambil meliputi: 56 sampel dari sapi yang tidak dan yang
mengalami aborsi, 38 sampel dari sapi normal sebagai kontrol dan lima sampel
semen keringbeku. Survei lapangan tidak mendapatkan kejadian aborsi, sehingga
tidak ada sampel organ untuk pemeriksaan patologi atau histopatologi.
Pengamatan terhadap pertumbuhan ragi mencatat sebanyak 20% ragi terdapat pada sapi
yang telah mengalami aborsi, 17% pada sapi yang mengalami gangguan reproduksi,
dan 14% pada sapi normal. Sedangkan
sampel yang tidak ada pertumbuhan ragi sebanyak 15% dari sapi mengalami aborsi,
7% pada sapi gangguan reproduksi dan 27% pada sapi normal. Sedangkan pada
pertumbuhan khamir hanya didapatkan pada 2 sampel semen beku. Oleh karena itu
disimpulkan bahwa pertumbuhan ragi yang lebih tinggi dijumpai pada sampel dari
sapi yang mengalami gangguan reproduksi dibandingkan sapi normal (P<0,05).
Sampel semen kering beku berisiko terkena cemaran cendawan khususnya ragi.
Tidak ada perbedaan antara sampel aborsidan yang mengalami gangguan reproduksi
(P>0,05).
Penulis: Djaenudin Gholib dan
Riza Zainuddin Ahmad
Kode Jurnal: jpbiologidd130692