SOCIAL NETWORKING SYSTEM SEBAGAI PUBLIC SPHERE POLITIK ERA POSTDEMOKRASI KAMPANYE PILPRES 2014

Abstrak: Perkembangan masyarakat sejalan dengan perkembangan budaya. Salah satu perkembangan budaya adalah tehnologi komunikasi dan informasi. Ketika tehnologi berkembang dan dimanfaatkan sebagai media politik dan perwujudan demokrasi modern. Public sphere adalah tema yang cocok untuk membahasnya. Sudut pandang disini akan mengambil internet dengan salah satu web basic terkenal yaitu SNS sebagai bahasan utamanya. Bagaimana Peranan Internet ketika menjadi public sphere politik dan informasi, dan membentuk era postdemokrasi. Konsep Jurgenn Habermas tentang public sphere akan menjadi analisis kritis public sphere dalam penelitian ini dan menggunakan kualitatif analisis deskriptif sebagai tehnik analisis data. Gambaran ringkas hasil penelitian, mendasarkan pada kelebihan dan kekurangan website SNS, dengan membandingkan realitas di dunia nyata. Berbagai bentuk interaksi didalam dunia maya, terbentuknya  kelas sosial baru seperti admin dan user. Munculnya Cybermass sebuah konsep untuk menyebut komunitas didalam media sosial. Kasus yang digunakan sebagai penerapan public sphere di era postdemokrasi adalah momen pemilihan umum presiden Indonesia yang berlangsung beberapa waktu yang lalu. Ketika kampanye politik berlangsung, muncul beberapa komunitas di media massa dan media online. Perdebatan di dunia maya menjadi media kampanye sekaligus penjaring aspirasi masyarakat. Suara di dunia online seolah merepresentasi dukungan sebenarnya kepada calon presiden pada pilpres 2014. Dibalik semua fitur yang bisa dilakukan media massa menyimpan berbagai kekurangan dan dapat menimbulkan konflik seperti isu black campaign.
Kata Kunci: Internet, public sphere, politik, kota, demokrasi
Penulis: HARRYS NANDA PRATAMA, FRANSISCUS XAVERIUS SRI SADEWO
Kode Jurnal: jpsosiologidd150557

Artikel Terkait :