MENDAMAIKAN KEBENARAN, MENGHENTIKAN PERANG (Analisis Filosofis terhadap Akar-Akar Konflik)

Abstrak: Kepada  fundamentalisme,  yang  sering  bersikap  atraktif  dan cenderung  keras,  Lieven  Boeve  melayangkan  kritik,  terkait diskursus  ‘truth’  ketika  dimaknai  sebagai  satu-satunya  milik sendiri  dan  tunggal,  bahkan  ‘esensi’nya  pun  tak  bisa  fleksibel ketika bertemu dengan kebenaran lain. Menurut Boeve, ‘truth’ itu milik majemuk, dan siapapun bisa bersuara atas kepemilikannya, tetapi  klaim  kebenaran  ini  tidak  boleh  menghalangi  secara interaktif dengan kebenaran lain ketika berada di ruang publik. Lieven Boeve kemudian memunculkan suatu teori yang ia sebut sebagai teori defisit kebenaran. Mengapa disebut defisit? Karena setiap komunitas atau kelompok memiliki kebenarannya sendiri, baik  yang  didasarkan  pada  tradisi,  keyakinan,  konsensus,  dan kesepakatan bersama. Sementara di luar sana, terdapat komunitas lain yang memiliki tradisi, keyakinan, dan hasil konsensus yang berbeda. Dengan demikian, kebenaran tersebar pada komunitaskomunitas  yang  partikular.  Kebenaran  yang  dimiliki  oleh  satu komunitas  mengalami  defisit,  karena  ada  kebenaran  lain  yang berbeda dimiliki oleh komunitas lain. Karena itu, dalam melihat kebenaran, harus dilihat secara komunal-intersubjektif.
Kata Kunci: kebenaran, universalitas, pluralisme, toleransi
Penulis: Abdul Halim
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd120208

Artikel Terkait :