KONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT DESA MEDANG TENTANG MAKAM BOYOPATIH
ABSTRAK: Tujuan dari
penelitian ini untuk menggambarkan konstruksi masyarakat Desa Medang tentang
Makam Boyopatih. Keberadaan Makam Boyopatih yang terletak di Desa Medang
Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan selama ini berkaitan dengan mitos larangan
makan ikan lele, bagi masyarakat Glagah yang memakan ikan lele akan
mengalami gatal- gatal dan pigmen kulit
akan belang-belang seperti kulit ikan lele. Untuk mengobati gatal-gatal
mayarakat harus ke Makam Boyopati untuk meminta maaf serta mengusapkan air
tambak yag berada di depan makam untuk mengobati gatal- gatal. Bagi masyarakat
Kabupaten Lamongan adanya makam di Desa Medang terkait dengan adanya mitos
tentang larangan memakan ikan lele, dimana Boyopatih yang merupakan tokoh dalam mitos tersebut
mengucapkan sumpah jika anak turunannya tidak memakan ikan lele sekaligus
menjadi salah satu walitullah yang menyebarkan agama islam di Desa Medang pada
saat itu. Seiring dengan modernisasi, makam dan nilai historisnya yang
merupakan realitas objektif tidak mampu di serap secara sempurna oleh anggota
masyarakat lainnya, sehingga realitas objektif inilah yang akan memunculkan
beberapa versi pemahaman masing-masing individu. Adanya Makam Boyopatih
mengakibatkan adanya berbagai tanggapan tentang makna makam tersebut bagi
masyarakat Desa Medang. Teori yang di gunakan adalah teori konstruksi sosial
Peter L Berger yaitu konstruksi sosial dilakukan melalui 3 tahapan yaitu :
eksternalisasi, internalisasi dan objektivasi. Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif serta pendekatan interpretatif yang lebih
menekankan pengalaman individu dalam memaknai suatu kejadian. Subyak penelitian
adalah masyarakat desa Medang. Tehnik pengumpulan data yakni melalui observasi
dan wawancara secara mendalam. Teknik analisis data melalui pengumpulan data,
katagorisasi data dan analisis data.Temuan data dalam penelitian ini memaparkan
bahwa konstruksi masyarakat Medang tentang Makam Boyopatih: Makam Boyopatih
sebagai mitos, sebagai peng-gabul keinginan atau hajat, sebagai pemberi rizki,
dan sebagai penyembuhan penyakit. Konstruksi ini berdasarkan pengalaman
individu dan juga stock of knowledge yang dimiliki individu dalam memaknai
makam tersebut.
Penulis: NISDATUN KHOIRIYAH,
PAMBUDI HANDOYO
Kode Jurnal: jpsosiologidd150587