BETWEEN THE CRITICISM OF HADITS AND HADÎTS PROBATIVENESS

Abstract: Setiap  Muslim  percaya  bahwa  al-Qur’ân  secara  wurûd  bersifat  qath’î, karena  ia  dikumpulkan  dan  ditulis  pada  masa  Nabi  serta ditransmisikan  secara  mutawâtir.  Namun  tidak  demikian  dengan Hadîts.  Ia  tidak  semuanya  ditulis  pada  masa  Nabi.  Karenanya,  para ulamâ’  berupaya  mengkaji  Hadîts  berikut  rantai  transmisinya  untuk menentukan  validitas  (ke-shahîh-an)  sebuah  Hadîts  melalui  kritik transmisi  Hadîts.  Artikel  ini  akan  menyoroti  persoalan  tersebut, sehingga  akan  memberikan  pemahaman  tentang  makna  dan  syarat-syarat  kritik  Hadîts  serta  hubungan  antara  kritik  Hadîts  dengan validitas dan pengujiannya. Validitas Hadîts  tidak  hanya bergantung pada Hadîts  itu  sendiri,  tetapi  ditentukan  melalui  investigasi historis dan pendekatan metodologis. Dalam kaitan ini, kemampuan personal dan kualitas intelektual para perawi Hadîts memiliki peran signifikan dalam  menentukan  apakah  sebuah  Hadîts  itu  diterima  atau  tidak. Untuk  itu,  ktirik  Hadîts  tidak  hanya  bertujuan  untuk  menilai  dan mengetahui  validitas  sebuah  Hadîts  dan  profesionalitas  perawinya, tetapi  juga  untuk  mengakomodasi  kebergunaannya  sebagai  sumber hukum Islam kedua.  
Keywords: Hadîts, criticism,  probativeness, and validity
Author: Idri
Journal Code: jphukumgg090022

Artikel Terkait :