Modal Sosial Pondok Pesantren Salafiyah Al-Qodir Tanjung Wukirsari Cangkringan Sleman Yogyakarta
Abstrak: Pondok pesantren
merupakan lembaga keagamaan
Islam yang unik
dan khas Indonesia. Eksistensi pesantren
yang bertahan melewati
berbagai tekanan sejak
berdirinya serta perannya yang
terlampau banyak bagi bagi masyarakat menjadikan pesantren layak dijadikan sebagai
obyek kajian. Pesantren yang rata-rata didirikan alumni santri, keterkaitan
pesantren dengan organisasi tertentu, norma-norma keseharian unik dari
pesantren, serta kepercayaan masyarakat
terhadap pesantren mendasari
kajian modal sosial
ini. Berdasarkan hal
tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui modal sosial Pondok
Pesantren Salafiyah Al-Qodir serta faktor-faktor penciptaan dan perusakan modal
sosial pada pesantren ini. Penelitian
ini menggunakan metode
penelitian kualitatif deskriptif
eksploratif serta partisipatif. Data
dalam penelitian ini
diperoleh melalui wawancara
yang didukung oleh observasi dan
dokumentasi. Subyek dalam
penelitian ini adalah
pimpinan pesantren, lurah pondok,
santri, alumni, masyarakat
sekitar serta beberapa
pihak-pihak yang melakukan kerjasama dengan
pesantren. Teknik sampling
yang digunakan untuk
menentukan subyek dalam penelitian
ini adalah snowball
sampling. Validitas data
dalam penelitian ini menggunakan teknik
triangulasi sumber. Teknik
analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini
yaitu pengumpulan data,
reduksi data, penyajian
data, dan kesimpulan
atau model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian
modal sosial Pondok
Pesantren Salafiyah Al-Qodir
menunjukkan modal sosial terdiri
dari tiga unsur
norma, kepercayaan dan
jaringan. Norma dibagi
menjadi dua, norma tertulis dan
tidak tertulis. Norma tertulis sesuai dengan norma yang tercantum dalam peraturan pesantren,
sedangkan norma yang
tidak tertulis tercermin
dalam keseharian di pesantren.
Kepercayaan menurut kemunculannya
terdiri dari kepercayaan
askriptif berdasarkan
kedekatan dan prosesual
berdasarkan proses pengalaman.
Jaringan terbagi menjadi ikatan kuat
(jaringan intern serta dengan lembaga yang memiliki kedekatan kultur dan ideologis
dengan pesantren), serta
jaringan lemah (jaringan
dengan lembaga di
luar pesantren). Faktor perusakan
modal sosial meliputi:
1) Penutupan jaringan
untuk memunculkan norma, karena kurangnya tata kelola jaringan yang ada
jaringan yang dimiliki pesantren belum bisa mengahasilkan norma dan masih
berserakan 2) Stabilitas struktur sosial, struktur terlihat
stabil meski kurang
fungsional serta kurangnya
mobilitas struktur. Faktor penciptaan modal
sosial meliputi: 1)
Ideologi, Al-Qodir menganut
ideologi Islam Ahlusssunnah wal
jamaah ala NU dan tidak
menutup hubungan dengan
ideologi lain, ideologi yang
terbuka dan sesuai
kondisi masyarakat sekitar
2) Faktor kekayaan,
faktor kekayaan yang tidak merata membuat banyaknya modal sosial di
pesantren ini.
Penulis: Hamdi Ahmadi Mushzabi
dan Dr. Siti Irene Astuti D, M. Si
Kode Jurnal: jpsosiologidd150357