TRANSMITTING CHARISMA: Re-reading Weber through the Traditional Islamic Leader in Modern Java

Abstrak: Artikel ini mencoba untuk menelaah kembali pandangan seorang tokoh klasik sosiologi, Max Weber, berkenaan dengan teori kepemimpinan beliau, lebih khusus lagi pandangan tentang karisma. Dalam hal ini, Weber berpandangan bahwa proses modernisasi, khususnya proses rasionalisasi yang tidak lagi bisa dibendung pengaruhnya, akan menyebabkan otoritas kharismatik akan berubah, terutama kea rah model legal-rasional. Melalui penggambaran tentang dinamika otoritas kyai di dunia pesantren, atikel ini akan menunjukkan fenomena yang berbeda dari apa yang diprediksikan oleh Weber, dimana proses rasionalisasi yang terjadi di dunia pesantren justeru memperkuat eksistensi kharismatik dari pimpinan pesantren, yaitu sang kyai. Melalui studi kasus yang dilakukan di salah satu pesantren tradisional yang cukup besar di Yogyakarta, artikel ini mendeskripsikan bagaimana berbagai instrumen kemoderenan yang hadir sebagai representasi dari terjadinya proses rasionalisasi di dunia pesantren justeru muncul sebagai faktor yang memperkuat posisi kyai sebagai pemimpin yang kharismatik. Keyakinan bahwa kualitas kharismatis, yang biasanya direpresentasikan oleh kekuatan supranatural, yang dalam pandangan Weber akan tererosi oleh proses modernisasi, justeru semakin terinstitusionalisasi dalam dunia pesantren dan bahkan diyakini bisa ditransmisikan melalui institusi-institusi yang ada.
Kata Kunci: Karisma, Rasionalisasi, Kyai, dan Pesantren
Penulis: Achmad Zainal Arifin
Kode Jurnal: jpsosiologidd150232

Artikel Terkait :