KONSTRUKSI DIRI ANAK PASCA PERCERAIAN ORANGTUA DI LINGKUNGAN MASYARAKAT KELURAHAN KAROMBASAN UTARA KECAMATAN WANEA KOTA MANADO

Abstrak: Keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama, dan masing-masing anggota merasakan pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi dan memperhatikan. Pada dasarnya keluarga adalah sebuah komunitas dalam satu atap, kebahagiaan dalam keluarga dapat dirasakan apabila suami, istri dan anak tinggal dan hidup bersama saling berbagi suka maupun duka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konstruksi diri anak pasca perceraian orang tua dalam berkomunikasi dilingkungan masyarakat Kelurahan Karombasan Utara Kota Manado. Dengan melibatkan 10 informan anak korban perceraian sebagai sumber data dan informasi utama penelitian.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, pengamatan berperan serta dengan menggunakan teori Teori Konstruksi Sosial Diri (Rom Harre) dan Teori Konsep diri (George Heaberd Mead). Identifikasi masalah adalah (1) Bagaimana konsep diri negative anak pasca perceraian orang tua dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat Kelurahan Karombasan Kecamatan Wanea Kota Manado.
Hasil penelitian menunjukkan Hasil penelitian menyatakan bahwa konsep diri negatif anak pasca perceraian orang tua adalah prilaku tertutup, sensitif, emosional, kurang percaya diri dan pemberontak. Sedangkan komunikasi terjadi adalah kurang efektif. Sedangkan konsep diri positif anak pasca perceraian oran tua adalah perilaku mandiri, pekerja keras dan lebih menghargai. Komunikasi berlangsung efektif baik secara internal dan eksternal.
Kata kunci: Konstruksi ,diri, anak, pasca perceraian, orang tua
Penulis: Priscilia V. Mokalu, Stefi H. Harilama, Norma Mewengkang
Kode Jurnal: jpkomunikasidd150346

Artikel Terkait :