HAJI: KOMUNIKASI SPIRITUAL TRANSBUDAYA

Abstrak: Ibadah haji mempertemukan umat islam dari berbagai penjuru dunia dengan perbedaan budaya, karakter, bahasa dan warna kulit, dengan satu persamaan tujuan hakiki, yaitu untuk bertaubat, saling mengenal dan menolong. Perbedaan kultural, bukan sesuatu yang problematis pada dan dalam dirinya sendiri, permasalahan muncul ketika Kita berada pada latar belakang budaya masing-masing, dan mempersepsi, berpikir, dan menafsirkan sesuatu dengannya.Komunikasi transbudaya menuntut kita membangun makna berdasarkan konteks dan situasinya, tidak berdasarkan sudut budaya kita, agar mampu saling mengenal dan menolong. Melalui interaksi simbolik, dengan peneliti sebagai instrumen utama srbagai jemaah haji tahun 2012, melakukan observasi dan wawancara melalui pemilihan informan Convenience sampling. Peneliti mencari bagaimana haji sebagai komunikasi spiritualitas terhadap Tuhan, sesama jemaah haji, dari perspektif komunikasi trans budaya.Ada keragaman dalam detail ibadah ke sang Khalik, dalam Praktek Shalat, mulai dari gerakan shalat seperti bersidakep, atau terulur saja, dan sebagainya. Busana yang dipakai ada mukena, abaya, dan sebagainya. Tentu saja keragaman juga yang berhubungan dengan interaksi manusia. Terdapat pada perbedaan bahasa: Melayu, arab, Cina dan lain-lain, budaya, misalnya, orang Arab sangat gemar bersedekah di musim haji, terbiasa memegang kepala saat lewat melangkahi jemaah lain, orang Arab mudah mengatakan haram, berkenaan dengan hukum agama atau hubungan manusia (tidak boleh). Jika Pedagang Arab tidak menyukai pembeli, mereka akan mengusir pembeli dan mengambil secara kasar barang yang sedang dipegangnya.
Kata kunci: Haji,komunikasi spiritual, Komunikasi Transbudaya
Penulis: Nina Yuliana
Kode Jurnal: jpkomunikasidd120098

Artikel Terkait :