PRODUKTIVITAS TANAMAN KALIANDRA (Calliandra calothyrsus) SEBAGAI HIJAUAN PAKAN PADA UMUR PEMOTONGAN YANG BERBEDA
Abstrak: Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrien dan produksi tanaman kaliandra sebagai
hijauan pakan pada umur pemotongan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan selama
48 minggu (Juni 2012 sampai Juni 2013) di Lahan Hijauan Pakan Ternak,Satuan
Kerja Kaligesing,Purworejo, Dinas Peternakan Jawa Tengah. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak
Kelompok. Blocking dilakukan terhadap kemiringan tanah. Pemanenan berdasarkan
perlakuan umur pemotongan yaitu: 6 (P1), 8 (P2), 12 (P3), dan 16 (P4) minggu.
Tanaman kaliandra sebelum digunakan dilakukan penyeragaman umur pemotongan
tanaman.Tanaman kaliandra pada saat pemanenan dipotong berdasarkan edible
portion (bagian yang dapat dimakan oleh ternak yaitu batang muda dan daun).
Variabel yang diamati adalah produksi bahan segar, bahan kering, bahan organik,
dan protein kasar, serta kadar bahan kering, bahan organik, protein kasar,
lemak kasar, serat kasar, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), dan total
digestible nutrient(TDN). Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar bahan kering
tertinggi terdapat pada P3 (31,25%) dan berbeda nyata (P<0,05) dengan P1
(26,51%) dan P4 (28,11%). Kadar protein kasar tertinggi pada perlakuan P2
(21,10%) dan tidak berbeda nyata dengan P1 (21,09%), P3 (19,20%), kadar protein
kasar erendah terdapat pada perlakuan P4 (18,04%). Kadar lemak tertinggi
terdapat pada P3 (2,84%) dan berbeda nyata dengan P1 (1,51%). Kadar serat kasar
tertinggi terdapat pada P4 (22,56%) dan berbeda nyata dengan P1 (15,80%) dan P2
(18,46%). Kadar bahan organik, BETN, dan TDN berbeda tidak nyata pada umur
pemotongan yang berbeda. Produksi bahan segar, bahan kering, bahan organik, dan
protein kasar tertinggi terdapat pada P4 dan berbeda nyata (P<0,05) dengan
P1, P2, dan P3. Produksi terendah terdapat pada perlakuan P2. Kualitas hijauan
terbaik pada penelitian ini diperoleh dari perlakuan ketiga (dengan frekuensi
pemotongan 4 kali), sedangkan kuantitas hijauan terbaik diperoleh dari
perlakuan keempat (dengan frekuensi pemotongan 3 kali).
Penulis: Abqoriyah, Ristianto
Utomo, dan Bambang Suwignyo
Kode Jurnal: jppeternakandd150078