GAMBARAN RESILIENSI ANAK PASCA BENCANA BANJIR DI DESA DAYEUHKOLOT, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT
ABSTRAK: Jawa Barat merupakan
salah satu wilayah di Indonesia yang
sering mengalamibencana alam. Salah satunya daerahnya adalah Dayeuhkolot,
Kabupaten Bandung. Bencana alam yang seringkali dihadapi oleh masyarakat
Dayeuhkolot adalah banjir. Setiap turun hujan, maka daerah ini akan terendam
oleh air. Lebih-lebih jika intensitas curah air hujan cukup tinggi dan
berdurasi lama, maka dapat dipastikan banjir akan melanda. Bencana banjir beresiko
tinggi mengancam keselamatan jiwa para warga serta merusak infrastruktur yang ada.
Bukan hanya kerugian secara materi yang
menjadi masalah, namun juga dampak psikologis.
Penelitian ini mengacu pada konsep resiliensi dari Reivich & Shatte
(2002) yang menyatakan bahwa resiliensi merupakan kemampuan untuk beradaptasi
dan tetap teguh dalam situasi sulit.
Menurut Reivicih & Shatte (2002) Resiliensi dibangun dari tujuh kemampuan.
Adapun ketujuh kemampuan itu adalah: Regulasi emosi (emotion regulation), pengendalian impuls (impuls control, analisis Kausal
(causal analysis), efikasi diri (selfefficacy),
Optimisme (realistic
optimism), empati (emphatic), mencapai
hal yang positif (Reaching Out.).
Penelitian ini merupakan penelitian awal yang bermaksud untuk menggambarkan
resiliensi anak korban bencana banjir di Dayeuhkolot, Bandung. Penelitian ini
termasuk penelitian deskriptif, dengan menggunakan metode kualitatif dan
kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan Resilence Quotient (RQ) dari Reivich
& Shatte (2002) yang dilakukan penyesuaian oleh peneliti (alpha cronbach =
0,885). Sampel penelitian berjumlah 31 orang anak di daerah Dayeuhkolot,
Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan teknik accidental sampling.
Hasil penelitian menunjukkan secara umum kemampuan resiliensi yang
dimiliki oleh anak-anak pasca bencana banjir di desa Dayeuhkolot, Kabupaten
Bandung, Jawa Barat menunjukkan
kemampuan yang baik/tinggi dalam
impulse control, optimism dan causal analysis, sedangkan kemampuan yang
tergolong rendah adalah regulasi emosi, empati, self efficacy dan reaching out.
Meskipun demikian, penelitian ini merupakan penelitian awal, sehingga
penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan. Untuk meningkatkan kemampuan resiliensi
anak, tampaknya perlu dirancang dan dilakukan program intervensi dan pengembangan
terutama dalam kemampuan regulasi emosi, empati, self efficacy dan reaching out.
Penulis: Rachmat Taufiq, Eka
Susanty, Dyah Titi S, Elin Nurlina
Kode Jurnal: jppsikologikepribadiandd140044