SIMULASI MASYARAKAT JOGJA PADA PROGRAM ACARA “FILM TELEVISI (FTV) SURYA CITRA TELEVISI (SCTV)”
ABSTRAKSI: Penelitian ini
membahas simulasi masyarakat Jogja pada tayangan FTV SCTV dengan realitas
masyarakat Jogja di Malioboro dan Kraton. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bentuk simulasi masyarakat Jogja pada tayangan FTV SCTV dengan
realitas masyarakat Jogja di Malioboro dan Keraton. Manfaat dari penelitian ini
sebagai bahan rujukan yang menganalisis kajian media massa dan informasi,
kajian budaya (cultural studies) serta ilmu sosiologi pengetahuan lainnya.
Penelitian menggunakan perpekstif dalam sosiologi terapan dalam bidang
kajian media massa dan kajian budaya (cultural studies). Dimana dalam kaitannya
dengan simulasi, peneliti melihat bagaimana bentuk simulasi masyarakat Jogja
yang ditampilkan dalam tayangan FTV SCTV dengan realitas masyarakat Jogja yang
sebenarnya, terutama yang tinggal di Malioboro dan Kraton. Oleh karena itu,
peneliti ingin melihat dengan cara analisis semiotika sebagai metode dalam
penelitian ini. Pendekatan analisis semiotika ini didasarkan pada analisis
semiotika visual dengan cara melihat dan menganalisis bentuk tanda masyarakat
Jogja yang ditayangkan di FTV SCTV dengan realitas masyarakat Jogja di
Malioboro dan Kraton. Sebagai pengambilan data dan pendukung dalam
penelitiannya, peneliti mengambil tiga subjek informan diantaranya informan
utama, informan pendukung, dan informan tambahan yang berasal dari Kota Jogja
yaitu yang tinggal di Malioboro dan Keraton. Kemudian dengan menambahkan
datanya dengan mengambil dokumen pribadi (foto, audio dan video) dan rekaman
dari Youtube.
Hasil dari penelitian ini adalah penokohan masyarakat Jogja yang ditampilkan
oleh FTV SCTV melalui FTV “Bibik Saingan Gue” dan FTV “Pernikahan Sandiwara”
bahwa masyarakat Jogja tidak ditampilkan sesuai realitasnya. Penggambaran yang
dibawakan FTV SCTV hanya menampilkan masyarakat Jogja yang masih berbicara
dengan bahasa Jawa yang medok, masyarakat yang masih memakai kendaraan (sepeda
ontel, becak, andong, dll), dan masyarakat yang masih memakai pakaian adat Jawa
(lurik, sorjan, dan blangkon). Ketiga kriteria tersebut adalah penokohan
masyarakat Jogja yang ditampilkan FTV hampir di setiap judul FTV yang memakai
latar Jogja sebagai penayangannya.
Penulis: Novi Andry A
Kode Jurnal: jpsosiologidd140213