Pembangunan dalam Perspektif Ekofeminisme
Abstrak: Pembangunan yang dilaksanakan
oleh negera-negara Dunia Ketiga secara paradigmatik telah banyak dikecam dan
dikritisi oleh para peneliti di Negara-negara Selatan dan sejumlah Negara
Timur. Mengapa? Pertama, karena pembangunan telah banyak menimbulkan dampak
sosial, budaya, politik dan ekologis yang harus ditanggung oleh masyarakat yang
dikenai pembangunan tersebut. Selain semua kebijakan pembangunan bersifat
top-down juga atas nama pertumbuhan ekonomi telah mengabaikan aspek-aspek
lainnya selain ekonomi dalam kehidupan masyarakat tersebut. Kedua, pembangunan
menempatkan masyarakat terutama kaum perempuan sebagai objek pembangunan,
misalnya jelas terlihat dalam kebijakan program Keluarga Berencana.
Oleh karena secara paradigmatik
teori pembangunan diadopsi sepenuhnya dari konsep pembangunan di
negara-negara maju, dengan sendirinya indikator-indikator pembangunan pun
menggunakan parameter negera-negara maju tersebut. Bahkan, saat pertumbuhan ekonomi dijadikan tulang
punggung keberhasilan pembangunan, parktik pembangunan ini telah menggunakan
kepercayaan pada ilmu ekonomi yang “bebas budaya” dengan sendirinya netral.
Resiko yang ditanggung pembangunan dengan titik pandang ini sejak pembangunan
dicanangkan hingga saat ini masih menyisakan persoalan yang rumit secara
sosial, ekonomi, politik, budaya, dan ekologis. Perempuan di Indonesia
misalnya, dengan populasi 49,9%
(102.847.415) berdasarkan Sensus Penduduk 2000 dari total 206.264.595 penduduk Indonesia masih menangggung
marjinalisasi dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan akses secara politis.
Padahal, salah satu tolok ukur Indeks Pembangunan Manusia yang ditetapkan oleh
UNDP adalah indeks kesehatan dan pendidikan. Sehingga tidak mengherankan bila
Indonesia dari 117 negara yang disurvey untuk Indeks Pembangunan Manusia ini menempati
urutan ke 111. Kaum Ekofeminisme menuduh mengejar kemajuan pembangunan hanya
menempatkan perempuan sebagai “korban” (objek) pembangunan ketimbang subjek
yang ikut serta aktif berpartisipasi dalam proses pembangunan. Berangkat dari
fakta tersebut, tulisan ini berusaha melakukan analisis kritis secara
paradigmatis atas teori-teori pembangunan dan kedudukan perempuan dalam
pembangunan dalam perspektif
Ekofeminisme. Juga, menawarkan
alternatif kerangka paradigmatik teori pembangunan yang sensitif gender dan
berbasis budaya yang selama ini diabaikan dalam paradigma pembangunan lama.
Karena rendahnya kualitas perempuan dalam akses pendidikan , kesehatan dan
politik di Indonesia juga menjadi penyebab rendahnya Indeks Pembangunan Manusia
Indonesia.
Penulis: Ema Khotimah
Kode Jurnal: jpsosiologidd060022