MUSIK DANGDUT DAN IRONI PENDIDIKAN SENI DI YOGYAKARTA
Abstract: Beberapa tahun
terakhir kasus pengakuan seni budaya Indo-nesia oleh negara lain seperti Reog
Ponorogo, juga beberapa lagu daerah dianggap sudah kelewat batas. Masyarakat
geram dibuatnya. Terlebih masyarakat daerah, sebagai sang pemilik identitas.
Realitas tersebut mendapat reaksi dan kecaman yang luar biasa yang datang hampir dari semua kalangan masya-rakat. Namun
ada hikmah dibalik itu semua. Masyarakat kini mulai terbuka dan ternyata mereka
masih meyakini bahwa seni budaya yang mereka miliki adalah aset yang tak
ternilai harganya. Dalam bidang musik, Dangdut merupakan aset bu-daya bangsa,
sebagai identitas yang harus di jaga. Sayangnya tak nampak perhatian pemerintah
khususnya mereka para pemangku kebijakan dalam bidang pendidikan. Dangdut tak
masuk kurikulum, sedangkan ia sudah dipelajari di 70 negara di dunia. Perlahan
ia tak disukai bahkan dicaci, dan dibiarkan untuk tidak dipelajari. Mereka
telah membuat kita lupa, bahwa dangdut adalah bagian dari identitas diri.
Penulis: Moh. Khatibul Umam
Kode Jurnal: jpsosiologidd140152