Sarkopenia, Latihan, dan Kejadian Jatuh (Falls) pada Populasi Lanjut Usia
ABSTRAK: Sarkopenia sangat
terkait dengan penurunan fungsi dalam melakukan berbagai aktivitas penting yang
pada akhirnya akan menyebabkan kerapuhan, meningkatkan risiko jatuh dan
hilangnya kemandirian. Latihan diketahui merupakan salah satu modalitas terapi
sarkopenia, yang juga memiliki efek protektif terhadap falls. Penelitian
dilakukan untuk menemukan hubungan antara sarkopenia dan latihan dengan
kejadian jatuh pada usia >60 tahun.
Penelitian observasional dilakukan dengan pendekatan potong lintang pada
populasi lanjut usia mandiri di Kabupaten dan Kota Malang sebanyak 232 subjek. Massa otot
diukur mengunakan formula
MAMC, kekuatan dan
fungsi ekstremitas diukur
menggunakan kekuatan genggaman
tangan dan jarak tempuh dan kecepatan
berjalan. Latihan didefinisikan sebagai senam ataupun jalan kaki minimal
120 menit perminggu. Riwayat jatuh dikatakan positif bila ada kejadian jatuh
dalam 1 tahun terakhir berdasarkan anamnesis.
Hasil menunjukkan 106
pasien (45,69%) mengalami
sarkopeni berdasarkan algoritme
EWSGOP. Dari 106 kelompok sarkopeni, 27 subjek pernah
mengalami jatuh (25,5%). Faktor berat badan, tinggi badan, index massa tubuh, lingkar
lengan atas, tricep skinfold, genggaman tangan, kecepatan berjalan dan latihan,
terbukti memiliki perbedaan yang bermakna
antara kelompok sarkopenia
dan tidak sarkopenia
(p=0,000; p=0,035; p=0,04;
p=0,000; p=0,000; p=0,000; p=0,000; p=0,001 dan p=0,031). Hanya lingkar lengan atas yang
didapatkan hubungan yang bermakna dengan adanya riwayat jatuh (p=0,000).
Didapatkan hubungan yang bermakna antara latihan dengan sarkopenia (p=0,031)
dengan OR 1,73 CI 1,007-2,885,
sehingga dapat dihitung
probabilitas subjek yang
tidak melakukan latihan
akan mengalami sarkopenia sebesar
63,37%.
Penulis: Niluh Tantri, Sri Sunarti,
Gadis Nurlaila, Djoko Wahono S
Kode Jurnal: jpkedokterandd140426