OBESITAS DAN STRES OKSIDATIF
ABSTRACT: Penderita obesitas
meningkat pesat akhir-akhir ini baik di negara maju maupun di negara
berkembang. Di Indonesia prevalensi obesitas cenderung meningkat dari tahun ke
tahun. Obesitas memegang peran penting dalam patogenesis berbagai kejadian
penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus, hipertensi, proses penuaan,
serta kanker. Obesitas juga dihubungkan dengan terjadinya penyakit
kardiovaskuler seperti penyumbatan pembuluh darah, hiperlipidemik,
aterosklerosis, dan stroke. Pada keadaan obesitas bisa memicu timbulnya keadaan
stres oksidatif karena ketidakseimbangan prooksidan dan antioksidan di dalam
tubuh. Obesitas erat kaitannya dengan stres oksidatif, dikarenakan adanya
peranan cAMP (cyclic Adenosin Mono Phosphat) dalam pengaturan keseimbangan
energi. Jaringan adiposa selain berperan sebagai tempat penyimpanan energi juga
berfungsi sebagai organ endokrin, yang
bertanggung jawab terhadap patofisiologi stres oksidatif serta sindrom
metabolik dan kelainan kardiovaskular. Pada keadaan obesitas terjadi proses
inflamasi, lipogenesis yang berlebihan, penghambatan lipolisis, serta
meningkatkan apoptosis adiposit. Obesitas akhirnya meningkatkan pelepasan
Reactive Oxygen Species (ROS) dan akan menyebabkan suatu kondisi yang disebut
dengan stres oksidatif. Stres oksidatif adalah keadaan saat jumlah radikal
bebas di dalam tubuh melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Pada
kondisi stres oksidatif akan menyebabkan kerusakan sel, jaringan atau organ
yang kemudian bisa memicu terjadinya penyakit-penyakit degeneratif. Simpulan,
obesitas memicu proses inflamasi dan kelainan metabolisme yang akan
mengakibatkan peningkatan stres oksidatif. Stres oksidatif yang berlangsung
lama akan menyebabkan kerusakan sel dan jaringan serta memicu munculnya penyakit-penyakit
degeneratif.
Penulis: Tiwuk Susantiningsih
Kode Jurnal: jpkedokterandd150187