Induksi Ketahanan Kekeringan Delapan Hibrida Kelapa Sawit ( Elaeis guineensis Jacq.) dengan Boron
ABSTRACT: Penelitian bertujuan
untuk 1) menentukan respon dan tingkat ketahanan delapan hibrida kelapa sawit
terhadap cekaman kekeringan dan 2) menentukan dosis boron (B) yang optimal
untuk menginduksi ketahanan hibrida kelapa sawit terhadap cekaman
kekeringan. Perc obaan disusun
dalam rancangan acak kelompok
lengkap (RAKL) faktorial
dengan tiga blok
sebagai ulangan. Faktor pertama adalah hibrida kelapa sawit,
yang terdiri dari: Yangambi, Avros, Langkat, PPKS 239, Simalungun, PPKS 540,
PPKS 718 dan Dumpy. Faktor kedua adalah dosis
boric acid yang
terdiri dari 5 aras yaitu:
0; 0,25; 0,5;
0,75; dan 1
g/bibit. Pengamatan
dilakukan terhadap beberapa
variabel mikroklimat di
lokasi penelitian, aktivitas fisiologis
serta pertumbuhan bibit
kelapa sawit. Data
yang telah diperoleh selanjutnya
dianalisis varian (ANOVA)
pada taraf 5
%, dan dilanjutkan dengan
uji jarak berganda
Duncan (DMRT). Dosis
optimal B yang 15
Vegetalika 3(3), 2014 mampu
meningkatkan ketahanan bibit
kelapa sawit terhadap
cekaman kekeringan
ditentukan menggunakan analisis
regresi. Hasil penelitian memberikan informasi
bahwa aplikasi boron
pada bibit kelapa
sawit mampu menginduksi ketahanan
terhadap cekaman kekeringan
melalui mekanisme pengerasan akar
(aspek morfologi), mempertahankan bukaan
stomata (aspek fisiologi) dan
kandungan klorofil daun (aspek biokimia). Dosis optimum boric acid untuk menginduksi
ketahanan hibrida kelapa
sawit terhadap cekaman kekeringan berkisar
antara 0,5–0,75 g/bibit,
pada kandungan awal B dalam media
tanam sebesar 78,53
ppm. Hibrida PPKS
239, Simalungun dan
Dumpy mampu menghadapi cekaman kekeringan lebih baik daripada Avros,
PPKS 718, PPKS 540, Yangambi dan Langkat.
Penulis: Fitriyana Sholihatun,
Eka Trawaca Susila Putra, Dody Kastono
Kode Jurnal: jppertaniandd140200