KAJIAN BAHAN DASAR (LEMPUNG) TERHADAP KARAKTERISTIK MEKANIK BATU BATA YANG DIHASILKAN DAN KESESUAIAN FUNGSI BERDASARKAN DIAGRAM WINKLER
ABSTRACT: Batu bata merupakan
bahan bangunan yang kerap dipakai dalam setiap pembangunan di masyarakat dan
telah dipakai sejak lama. Penggunaan batu bata banyak digunakan untuk aplikasi
teknik sipil yang bersifat struktural dan non struktural. Persentase Clay memiliki
peranan yang signifikan pada proses pembentukan batu bata. Clay pada dasarnya berperan sebagai perekat
melalui proses vitrifikasi dalam proses pembakaran namun terlalu banyak
persetase clay juga menyebabkan susut yang tinggi. Oleh sebab itu diperlukan proses
pencampuran dan pembentukan batu bata yang dapat mengatasi hal ini. Proses
pengerjaan batu bata sampel Gondanglegi dan Tegalweru masih dengan cara
tradisional.
Pengujian yang dilakukan dibagi dua tahap yaitu : pengujian gradasi
campuran tanah liat dan pengujian kuat tekan batu bata. Pengujian gradasi
campuran tanah liat didapatkan dari anailis saringan dan analisis hidrometer.
Hasil gradasi campuran tanah liat kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok
(sand,silt,clay) yang selanjutnya akan diplotkan ke dalam diagram Winkler.
Sedangkan Pengujian kuat tekan batu bata dilakukan dengan 2 metode, yaitu :
metode kubus dan metode ASTM C67-07. Hasil kuat tekan kemudian akan dilihat
apakah telah memenuhi standar yang ditentukan dalam Pedoman Teknis Rumah dan Bangunan
Gedung Tahan Gempa yaitu 30 kg/cm2
Hasil pengujian yang dilakukan mendapatkan dua parameter, yaitu golongan
kegunaan tanah liat berdasarkan diagram Winkler dan kuat tekan batu bata. Pada
campuran tanah liat sampel Gondanglegi dan Tegalweru sama-sama masuk kedalam
golongan III yang artinya dapat dibentuk menjadi genteng dan bata berongga.
Hasil kuat tekan menunjukkan bahwa baik batu bata sampel Gondanglegi maupun
Tegal tidak ada yang memenuhi standar kuat tekan yaitu 30kg/cm2 atau 3 Mpa.
Hasil pengujian kemudian diperbandingkan dengan campuran tanah liat
rekomendasi Indian Standart (IS 2117-1991) tidak ada perbedaan golongan,
rekomendasi IS menunjukkan campuran tanah liat yang juga memasuk golongan II
dan III bukan golongan I yaitu dapat dibentuk menjadi bata pejal. Pada riset
Structural Masonry : Properties and Behaviour dengan daerah cakupan produksi
bata yaitu Banglore dan sekitarnya didapatkan bahwa rata-rata kuat tekan yang
dihasilkan diatas 3 MPa (Rao, 2008). Pada percobaan tersebut juga terlihat bahwa kandungan clay pada campuran
tanah liat masih dibawa kandungan clay pada sampel Gondanglegi dan Tegalweru.
Pengolahan tanah liat sampel Gondanglegi dan Tegalweru masih termasuk
kedalam soft mud process sehingga membutuhkan banyak penambahan air pada
campuran yang dapat berakibat retak akibat susut dan kurang padatnya batu bata
yang dihasilkan. Penambahan abu sekam padi umum digunakan untuk mencegah retak.
Penulis: Ferlyc Achmat Dwijaya,
Agoes SMD, Wisnumurti
Kode Jurnal: jptsipildd140172