PENYUSUNAN TES DIAGNOSTIK FISIKA MATERI LISTRIK DINAMIS
Abstract: Penelitian ini
bertujuan untuk menyusun dan menghasilkaninstrumen tes diagnostik alat ungkap
miskonsepsi siswa dalam materi Listrik Dinamis di Sekolah Menengah Atas kelas X
semester genap. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R&D)dengan
metode 4-D yang dikembangkan oleh S. Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn
I. Semmel (1974). Penelitian melibatkan ahli bidang studi Fisika dan siswa SMA
Negeri Colomadu. Teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara dan teknik
tes. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptifnya dan analisis
butir tes. Analisis deskriptif digunakan untuk proses penyusunan tes
diagnostik. Sedangkan analisis butir tes
pilihan ganda dengan alasan yang sudah ditentukan meliputi uji validitas, dan
reliabilitas soal. Tahap dalam penelitian terdiri dari 1) tahap Define meliputi
analisis kurikulum, analisis silabus, dan analisis kebutuhan, 2) tahap design
meliputi penyusunan kisi-kisi dan instrumen tes yang terdiri dari 20 butir soal
yang teruji validitasnya melalui kegiatan validasi yang dilakukan oleh
validator ahli, 3) tahap develop dilaksanakan dengan uji coba terbatas. Uji
coba terbatas melibatkan 26 siswa (skala kecil) dan 53 siswa (skala besar) dari
Kelas XI SMA Negeri Colomadu, 4) tahap disseminate. Berdasarkan analisis data
dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa hasil penelitian ini antara lain: 1)
butir soal tes diagnostik yang telah disusun sesuai dengan kompetensi dasar
yang telah ditentukan. Terdapat sebaran soal pada setiap kompetensi dasar. Pada
kompetensi dasar 5.1 yaitu memformulasikan besaran-besaran listrik rangkaian
tertutup sederhana (satu loop) ada 15 item soal, kompetensi dasar 5.2 yaitu
mengidentifikasi penerapan listrik AC (alternating current)dan DC (direct
current) dalam kehidupan sehari-hari ada
4 item soal, dan pada kompetensi dasar 5.3 yaitu menggunakan alat ukur listrik
terdapat 1 item soal. Jumlah soal yang disusun sebanyak 20 butir. Instumen yang
disusun bertujuan untuk mengukur ranah kognitif siswa antara C1 sampai C4. Adapun
jumlah butir soal berdasarkan pengukuran ranah kognitif antara lain: memahami
(C2) sebanyak 3 soal, menerapkan (C3) sebanyak 6 soal, dan menganalisis (C4)
sebanyak 11 soal. 2) Tes diagnostik yang disusun mampu mengklasifikasikan
tingkat pemahaman siswa. Tingkat pemahaman siswa dibedakan menjadi tiga yaitu
memahami, miskonsepsi, dan tidak tahu konsep. Tingkat pemahaman siswa diungkap
melalui pemahaman konsep materi (Listrik Dinamis). Dari 20 butir soal yang
disusun, terdapat 13 butir soal yang dapat dijadikan sebagai tes diagnostik.
Sedangkan 7 butir soal yang tidak dapat dijadikan sebagai tes diagnostik yaitu
nomor 5, 10, 11, 15, 17, 19, dan 20. Hal ini bisa terjadi karena soal nomor 5,
10, dan 20 hanya dapat mengungkap kemampuan siswa dalam tingkat pemahaman
miskonsepsi dan tidak tahu konsep, sedangkan tingkat pemahaman memahami tidak
dapat diungkap. Sedangkan untuk soal nomor 11 dan 17 hanya dapat mengungkap
kemampuan siswa dalam tingkat pemahaman memahami dan tidak tahu konsep,
sedangkan tingkat pemahaman miskonsepsi tidak dapat diungkap. Dan untuk soal
nomor 19 hanya dapat mengungkap kemampuan siswa dalam tingkat pemahaman
miskonsepsi saja, sedangkan tingkat pemahaman memahami dan tidak tahu konsep
tidak dapat diungkap.Berdasarkan persentase pemahaman konsep tersebut dapat
dikatakan bahwa instrumen soal telah memenuhi kriteria tes yang baik yaitu
valid, relevan, spesifik, representatif, seimbang, sensitif, fair, dan efisien.
Penulis: Dita Nugraeni, Jamzuri,
Sarwanto
Kode Jurnal: jpfisikadd130282