GAGASAN JÜRGEN HABERMAS DALAM EMPAT PUISI MUSTOFA BISRI

Abstract: Sastra merupakan media untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. Puisi adalah salah satu genre sastra populer karena selain memberikan kesenangan batin, melembutkan pikiran, meningkatkan keimanan, juga mengangkat harapan hidup ke arah yang lebih baik. Dalam konteks ini, puisi men-jadi panduan dan alat komunikasi untuk melakukan sesuatu yang lebih sempurna. K.H.A. Mustafa Bisri (Bisri) merupakan penyair terkenal dengan ekspresi sosial. Melalui puisi-puisinya, Bisri tidak hanya memprotes ketidakadilan yang telah berlangsung sejak lama di negara tersebut. Dikatakan, ‘pelukan’ dan ‘berlari’ dari demokrasi ini, melainkan sebuah titik untuk mengajarkan tentang komunikasi dan praktek filsuf demokrasi. Dengan demikian, puisi dapat disandingkan dengan gagasan Jϋrgen Habermas (Habermas) dalam praktek ‘demokrasi komunikasi masyarakat. Studi ini menganalisis gagasan kesamaan antara dua karakter, masing-masing seba-gai penyair (Bisri) dan di sisi lain sebagai seorang filsuf (Haber-mas). Teori yang digunakan dalam diskusi ini adalah gagasan tentang semiotik, teori Michael Riffaterre, yang menyatakan makna puisi dapat ditelusuri dengan menggusur makna yang berarti ada makna tersembunyi di balik kata tersebut ditulis dalam bait-bait puisi. Dengan teori bahwa empat puisi Bisri: (1) “Wekwekwek” (gambar praktik komunikasi), (2) “The Big Man, The Little Man” (Ironi praktek komunikasi), (3) “Kamu ‘kembali Apa yang Saya Perlu Apa tidak “(protes terhadap praktek komunikasi), dan (4)” Nabi Sulaiman tersenyum “(praktek kebenaran layak komunikasi-sampel oleh masya-rakat yang demokratis). Pembacaannya dihadapkan dengan ide Habermas. Hasilnya kedua puisi memiliki ide yang sama.
Jika Habermas merumuskan teori yang disebutnya sebagai “wacana”, Bisri meyatakan suara mereka dalam bentuk bait-bait puisi. Jika Habermas mengatakan “ini harus dilakukan”, mencontohkan Bisri yang dapat dilakukan. Pada kenyataan-nya, manusia menurut Hebermas dalam objektivasi, orang menurut Bisri hanya menirukan, bahasa yang digunakan oleh Habermas untuk mendukung pers, menurut bahasa Bisri digunakan untuk mengontrol rakyat, menurut klaim validitas Habermas memerlukan penjelasan dan alasan, menurut Bisri, mempertanyakan validitas penguasa; komunikasi yang ideal oleh Habermas adalah komunikasi intersubjektif, sedangkan menurut Bisri penguasa dan orang-orang harus mencapai konsensus.
Kata Kunci: Bisri, Habermas, Diskursus dan Konsensus
Penulis: Mustari
Kode Jurnal: jpsosiologidd130153

Artikel Terkait :