PELAKSANAAN KEBIJAKAN OBAT GENERIK DI APOTEK KABUPATEN PELALAWAN PROVINSI RIAU

ABSTRAK:  Obat  merupakan  bagian  integral  dari pelayanan  kesehatan  masyarakat.  Oleh  karena  itu  harus tersedia dalam jumlah, jenis dan mutu yang cukup, merata dan mudah  diperoleh  masyarakat  pada  saat  dibutuhkan.  Dalam rangka  memenuhi  kebutuhan  masyarakat  akan  obat  dan menjamin  akses  obat  bagi  seluruh  masyarakat  pemerintah mengeluarkan  kebijakan  harga  obat  generik.  Walaupun  harga obat  generik  ini  sudah  di  tetapkan  oleh  pemerintah  tetapi pelaksanaannya masih  ditemui variasi  harga obat  yang beredar di  apotek  maupun  di  pasaran  sehingga  dapat  menimbulkan ketidakpastian  harga  bagi  masyarakat  dalam  memperoleh  obat yang  dibutuhkan.  Untuk  itu  perlu  dilakukan  penelitian  terhadap pelaksanaan  kebijakan  harga  obat  generik  di  sarana  distribusi obat  terutama  di  apotek  swasta  di  Kabupaten  Pelalawan.
Metode  Penelitian: Penelitian  ini  merupakan  penelitian  obser-vasional  dengan  metode  kualitatif  dan  kuantitatif,  menggunakan rancangan  cross  sectional,  data  dianalisis  secara  deskriptif.
Hasil  Penelitian:  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  akses obat generik  untuk  obat  yang dilayani  apotek 99,3%,  untuk  obat yang  tidak  terlayani  0,7%  dan  untuk  obat  yang  diganti  0,5%. Ketersediaan  obat  di  apotek  rata-rata  4-7,3  bulan.  Obat  yang tingkat  ketersediaannya  paling  tinggi  adalah  Hidrokortison  krim 2,5% yaitu 7,3 bulan dan yang paling rendah adalah Pirazinamid tablet  500  mg  yaitu  4  bulan. Apotek  yang  mempunyai  obat kadaluarsa adalah apotek PR (0,7%) dan KH (2%). Semua apotek tidak  terdapat  obat  yang  rusak,  persentasenya  0%.  Hampir semua apotek  pernah mengalami  kekosongan obat  mulai dari  4 hari sampai  90  hari. Harga obat  yang  dijual  rata-rata  mengalami kenaikan  dari  harga  eceran  tertinggi  apotek  (HET). Tetapi  ada juga  beberapa  obat  yang  dijual  dengan  harga  di  bawah  HET.
Obat  yang  harganya  dijual  diatas  HET  yang  paling  tinggi  yaitu Klorfeniramin  Maleat  (CTM)  tablet  dengan  kenaikan  sampai 515,4%. Sedangkan Deksametason tablet dijual paling rendah di bawah HET sampai 65,2%. Bahkan ada juga obat yang harganya sesuai dengan HET yaitu Alopurinol, Digoksin dan Ranitidin. Hasil wawancara  mendalam  pada  pasien  dapat  diketahui  bahwa pasien  mempunyai  daya  beli  terhadap  obat  generik.
Kesimpulan:  Pelaksanaan  kebijakan  harga  obat  generik  di Kabupaten Pelalawan baik. Hal ini  dapat dilihat dari akses obat generik oleh  masyarakat setelah dikeluarkannya SK  Menkes RI tinggi,  tingkat  ketersediaan  obat  generik  di  apotek  Kabupaten Pelalawan  berada  dalam  kategori  kurang  serta  tidak  terdapat obat kadaluarsa dan rusak. Harga jual obat generik di Kabupaten Pelalawan  masih  bervariasi  namun  masyarakat  masih  mampu untuk  membelinya.
Kata  Kunci:  Obat  generik,  ketersediaan  dan  keterjangkauan
Penulis: Aini Suryani, Mubasysyir Hasanbasri, Nunung Priyatni
Kode Jurnal: jpkesmasdd130160

Artikel Terkait :