ASAL USUL SUNAT PEREMPUAN
Asal Usul Sunat Perempuan dapat ditelusuri dalam
sejarah. Berdasarkan perspektif sejarah, sunat perempuan sudah dilakukan secara
rutin sejak 6000 tahun yang lalu di bagian selatan Afrika, mulai dari Lybia,
Mesir, Timur Tengah, Amerika Selatan, Australia dan Asia Tenggara (Sumarni,
2005). Tidak mudah untuk menetapkan kapan pemotongan klitoris (klitoridektomi)
dan tradisi-tradisi lainnya berasal. Tetapi, data etnografi dan antropologi
menunjuk pada perpaduan antara mitologi dan keyakinan agama (Anees, 1989).
Menurut Muhamad (1998) menjelaskan bahwa, sunat
perempuan bukan ajaran Islam, dapat dilihat dari tulisan Bryk, seorang etnolog
berkebangsaan Jerman pada tahun 1992. Dalam buku itu ia mengungkapkan bahwa
dikepala orang Massai di Afrika ada kepercayaan bahwa dengan memotong klitoris
dan sedikit labia minora, maka anak perempuan akan dapat dilepaskan dari
fantasi seksual. Perlu diingat bahwa suku Massai bukanlah suku Afrika yang
mayoritas beragama Islam. Pengaruh budaya ini demikian mendalamnya, sehingga
orangorang perempuan yang dikhitan secara simbolis sewaktu masih bayi akan
merasa bahwa dirinya masih belum benar-benar bersih, apalagi ia tidak ingat
lagi apakah ia sudah dikhitan atau belum.
Berbagai pendapat tentang asal mula dipraktikkannya sunat perempuan, menurut WHO (2001) bahwa ada beberapa
pendapat asal usul sunat perempuan, antara lain:
- Female Genital Mutilation atau sunat perempuan tidak dikenal kapan atau dimana tradisi sunat perempuan dimulai.
- Beberapa orang percaya FGM dimulai dari zaman dahulu kala.
- Beberapa orang percaya ini dimulai selama perdagangan Budak ketika budak hitam yang dimasukkan masyarakat Arab.
- Beberapa percaya sunat perempuan dimulai dengan kedatangan Islam di beberapa bagian sub-sahara Afrika.
- Yang lain percaya bahwa sunat perempuan dimulai pada saat kemerdekaan di Afrika, terlebih dahulu kunjungan Islam, orang-orang berpengaruh diantara serdadu-serdadu.
- Beberapa percaya sunat perempuan berawal dari dilontarkan kemerdekaan diantara grup etnik di Afrika sebagai upacara kedewasaan.
Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan
bahwa asal usul sunat perempuan tidak dapat diketahui secara pasti, hal ini
sangat bergantung terhadap budaya dan kepercayaan sekelompok masyarakat yang
melakukan praktik sunat perempuan. Sedangkan untuk laporan penyebaran sunat
perempuan sampai saat ini belum tersedia dengan lengkap, hal ini disebabkan karena
lemahnya pencatatan data, jumlah yang sebenarnya perempuan yang disunat lebih
besar daripada yang tercatat dan masih ada data yang belum terungkap.
