ANALISIS KEBIJAKAN DALAM MENGATASI KEKURANGAN BIDAN DESA DI KABUPATEN NATUNA

ABSTRAK: Kondisi geografis kepulauan,  yangtidak  di-imbangi dengan pembangunan di bidang kesehatan berdampak terhadap  jumlah  dan  ketersediaan  bidan  desa  di  Kabupaten Natuna.  Rasio  bidan  desa  dibandingkan  jumlah  desa  belum memenuhi  standar  Departemen  Kesehatan.  Masih  terdapat sekitar 13 desa dari 51 desa yang belum terdapat tenaga bidan membutuhkan tenaga  bidan karena letaknya di  pulau-pulau ter-pisah  dari  ibu  kota  kecamatan,  sehingga  mempengaruhi  akses masyarakat  untuk  mendapatkan  pelayanan  kesehatan.  Salah satu  upaya  yang  dilakukan  pemerintah  daerah  adalah  menarik minat  tenaga  bidan  melalui  berbagai  strategi  dan  kebijakan  di berbagai  bidang,  diantaranya  pembiayaan,  pemberian  insentif, regulasi,  organisasi  dan  perilaku  stakeholder.
Tujuan  penelitian:Untuk  menganalisis  kebijakan  dalam mengatasi  kekurangan    bidan  desa  di  Kabupaten  Natuna.
Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan  studi  kasus  menggunakan  metode  kualitatif.  Studi kasus  dalam  penelitian  ini  adalah  studi  kasus  tunggal  holistik. Informan  penelitian  ini  adalah  Kepala  Dinas  Kesehatan,  Kabid. Pemberdayaan  dan  Promosi  Kesehatan,  Kasubag.  Umum  dan Kepegawaian, Kepala BKD, Kepala Bapeda, DPRD Komisi Dua, kepala  puskesmas,  bidan  desa,  dan  kepala  desa.  Rancangan studi kasus bertujuan untuk mengetahui kebijakan dalam meng-atasi  kekurangan  bidan  desa  di  Kabupaten  Natuna.
Hasil  Penelitian:  Kebijakan  pembiayaan  pemerintah  daerah mengalokasikan  anggaran  kesehatan  kurang  dari  15%,  belum ada  kebijakan  pembiayaan  dalam  mengatasi  kekurangan  bidan desa,  hanya  sekitar  3-4%  digunakan  untuk  peningkatan  kapa-sitas  tenaga  kesehatan.  Pemberian  insentif  bagi  bidan  desa masih  relatif  kecil  apabila  dibandingkan  dengan    insentif  yang ditetapkan oleh Depkes. Belum ada regulasi khusus dari peme-rintah  daerah,  sehingga  kebijakan    ini  belum  optimal.  Dalam tingkat  organisasi  peran  hubungan  stakeholder  sesuai  dengan tugas  dan  kewenangannya,  meskipun  keputusan  akhir  ter-gantung kepada  DPRD dan kepala daerah.  Perilaku rendahnya minat  bidan  bekerja  di  Natuna  disebabkan  kondisi  geografis Natuna  yang  berupa  kepulauan.
Kesimpulan:  Kebijakan  pemerintah  daerah  dalam  bidang pembiayaan,  insentif,  organisasi,  regulasi,  dan  perilaku,  dalam mengatasi kekurangan bidan desa  belum optimal, karena belum ada kebijakan khusus  dari pemerintah daerah dalam menangani kekurangan  bidan  desa,  Disamping  itu  juga  karena  rendahnya minat  bidan bekerja  di  Natuna.
Kata  Kunci: Analisis kebijakan,  kekurangan  bidan  desa
Penulis: Imam Syafari, Dwi Handono Sulistyo, Kristiani
Kode Jurnal: jpkesmasdd130167

Artikel Terkait :