Prevalensi diabetes melitus dan hubungannya dengan kualitas hidup lanjut usia di masyarakat
LATAR BELAKANG: Diabetes
melitus (DM) merupakan keadaan yang seringkali dikaitkan dengan meningkatnya
risiko kesakitan dan kematian. Lanjut usia (lansia) yang menderitaDM seringkali
juga mengalami penyakit lainnya, ketidakmampuan fisik, gangguan psikososial dan
fungsi kognisi, serta meningkatnya pelayanan kedokteran. Pada akhirnya,
komplikasi yang terjadi akan mempengaruhi kualitas hidup lansia.
METODE: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang besarnya
prevalensi DM dan hubungannya dengan kualitas hidup lansia di masyarakat. Penelitian potong lintang dilakukan terhadap
101 lansia melalui wawancara terstruktur, pemeriksaan fisik, antropometri,
pemeriksaan gula darah dan penilaian kualitas hidup lansia berdasarkan
WHOQOL-BREF.
HASIL: Hasil penelitian menunjukkan domain 4 (kondisi lingkungan)
mempunyai rata-rata skor tertinggi (14,1 ± 1,8) dan domain 2 (kondisi
psikologi) mempunyai rata-rata skor terendah (12,9 ± 1,9). Lansia pria
mempunyai rata-rata skor lebih tinggi pada domain kesehatan fisik dan hubungan
sosial dibandingkan dengan lansia wanita. Prevalensi DM sebesar 15,8%
didapatkan pada kelompok usia 60-70 tahun dan lansia wanita memiliki prevalensi
lebih tinggi dari lansia pria. Rata-rata skor domain kondisi lingkungan lebih
tinggi bermakna pada lansia yang tidak menderita DM dan rata-rata skor
kesehatan fisik lebih tinggi bermakna pada lansia yang menderita obesitas.
Semakin besar indeks massa tubuh maka skor domain kesehatan fisik akan semakin
meningkat secara bermakna. Semakin tinggi kadar gula darah puasa maka skor
domain kesehatan lingkungan akan semakin menurun secara bermakna.
KESIMPULAN: Kadar gula darah yang tinggi menurunkan kualitas hidup
lansia. Intervensi pada lansia yang mengalami DM harus direncanakan untuk
memperbaiki kualitas hidup lansia.
Penulis: Rita Khairani
Kode Jurnal: jpkedokterandd0700135