PERBEDAAN FAKTOR RISIKO TERJADINYA ASMA BRONKIAL PADA PASIEN DENGAN ASMA BRONKIAL DAN PASIEN TANPA ASMA BRONKIAL DI POLI ANAK RAWAT JALAN RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK LAMPUNG PADA OKTOBER– DESEMBER 2011
Abstrak: Asma bronkial
merupakan penyakit kronis
yang paling sering
terjadi pada anak-anak
dan merupakan penyakit yang masih
banyak terjadi di masyarakat. Penelitian multisenter mengenai prevalensi asma bronkial
pada anak menghasilkan angka prevalensi di Palembang 7,4%; di Jakarta 5,7%; dan
di Bandung 6,7% (Kartasasmita, 1996). Penelitian ini bertujuan mengetahui
perbedaan faktor risiko terjadinya
asma bronkial pada
pasien dengan asma
bronkial dan pasien
tanpa asma bronkial
di Poli Anak Rawat Jalan RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Lampung pada Oktober
– Desember 2011.
Faktor risiko yang
diamati yaitu riwayat
atopi pasien, riwayat
atopi keluarga, kepemilikan binatang piaraan,
pajanan terhadap asap
rokok, penggunaan kasur
kapuk, status ekonomi, obesitas dan
jenis kelamin. Penelitian
ini adalah penelitian
analitik komparatif kategorik
tidak berpasangan, dengan metode cross sectional. Data terdiri dari data
primer dan sekunder dengan sampel
sebanyak 100 responden.
Tehnik sampling yang digunakan yaitu
consecutive sampling. Pengumpulan
data dilakukan dengan kuisioner, lalu pengolahan data menggunakan Chi-square.
Hasil penelitian ini menunjukan dari 100 responden, 26 (26%) responden
menderita asma dan 74 (74%) responden tidak menderita asma. Dari 26 responden
yang menderita asma, yang memiliki riwayat atopi berjumlah 22 orang (88%),
riwayat atopi keluarga berjumlah 24 orang (92%), kepemilikan binatang piaraan
berjumlah 21 orang (80%), pajanan terhadap asap rokok berjumlah 24 orang(92%),
menggunakan kasur kapuk berjumlah 19 orang (73%), status ekonomi rendah berjumlah
22 orang (84%), jenis kelamin laki-laki 12 orang (46%) dan obesitas 8 orang
(30%).
Hasil uji Chi-square menunjukan ada perbedaan yang bermakna antara faktor
risiko pada pasien dengan asma bronkial dan tanpa asma bronkial dengan p
value<0,1 pada riwayat atopi pasien (p=0.00), riwayat atopi keluarga
(p=0.00), kepemilikan binatang piaraan (p=0.00), pajanan terhadap asap rokok
(p=0.013), penggunaan kasur kapuk (p=0.017) dan status ekonomi rendah (p=0.006).
Sedangkan pada faktor jenis kelamin (p=0,448) dan obesitas (p=0.274) tidak ditemukan
adanya perbedaan yang bermakna.
Penulis: Yogie Irawan, dr.
Roro Rukmi Windi P M.Kes
Kode Jurnal: jpkedokterandd120064