KARAKTERISTIK PENDERITA TONSILITIS KRONIS YANG DIINDIKASIKAN TONSILEKTOMI DI BAGIAN THT RUMAH SAKIT UMUM RADEN MATTAHER JAMBI PADA BULAN MEI-JULI 2013

ABSTRACT: Tonsilitis kronis adalah inflamasi pada tonsila palatina yang menetap atau berulang dari tonsilitis akut. Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di tujuh provinsi di Indonesia, prevalensi tonsilitis kronis 3,8% tertinggi setelah nasofaringitis akut 4,6%. Tonsilektomi merupakan pengobatan praktis dan aman untuk tonsilitis kronis. Berdasarkan data RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2010-2011 kasus tonsilitis kronis yang diindikasikan tonsilektomi berjumlah 44-58 orang.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif prospektif. Populasi pada penelitian ini adalah semua penderita tonsilitis kronis yang diindikasikan tonsilektomi di bagian THT RSUD Raden Mattaher Jambi pada bulan Mei-Juli 2013. Pengambilan data menggunakan wawancara dalam bentuk daftar tilik (check list). Sampel penelitian ini sebanyak 30 orang.
Hasil: Dari 30 orang, ditemukan penderita tonsilitis kronis yang diindikasikan tomsilektomi terbanyak pada rentang usia antara 5-14 tahun yaitu 15 orang (50%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan yaitu 17 orang (56,7%), semua keluhan utamanya adalah nyeri pada tenggorok/ sakit menelan sebanyak 30 orang (100%), indikasi tonsilektomi terbanyak adalah indikasi relatif sebanyak 22 orang (73,3%).
Kesimpulan: Angka kejadian tonsilitis kronis yang diindikasikan tonsilektomi selama triwulan (Mei-Juli 2013) sebanyak 30 orang. Sebagian besar penderita dengan rentang usia 5-14 tahun dengan rasio perempuan lebih banyak, keluhan utama berupa nyeri pada tenggorok/ sakit menelan, dan indikasi tonsilektominya berupa indikasi relatif yaitu terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil pertahun dengan terapi antibiotik adekuat.
Kata kunci: Tonsilitis Kronis, karakteristik demografis, keluhan utama, indikasi tonsilektomi
Penulis: rts vivit sapitri
Kode Jurnal: jpkedokterandd130073

Artikel Terkait :