Direct Polymerase Chain Reaction: Sebuah Alternatif Metode Diagnostik Difteri Secara Cepat, Mudah dan Hemat
Abstrak: Beberapa jenis
penyakit membutuhkan penatalaksanaan secara cepat dan tepat guna menurunkan
risiko fatal penderita, salah satu diantaranya
adalah difteri. Waktu
sangat berharga untuk
bisa menolong penderita
karena keterlambatan penatalaksanaan bisa
meningkatkan kematian kasus
hingga 20 kali
lipat. Di sisi
lain, metode diagnostik
konvensional sebagai gold standard membutuhkan waktu 3–5 hari sehingga
diperlukan metode diagnostik alternatif untuk membantu menegakkan diagnosis
difteri. Direct polymerase chain reaction (PCR) dapat menjawab tantangan atas
besarnya biaya dan lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk
pemeriksaan laboratorium. Penelitian
bertujuan untuk mengembangkan metode direct
PCR sebagi metode
alternatif diagnostik difteri
secara cepat, mudah
dan hemat. Sebanyak
15 sampel yang terdiri
dari 10 isolat
Corynebacterium diphtheriae toksigenik
dan 3 Corynebacterium non-diphtheriae nontoksigenik ditambah
dengan 2 spesimen
klinis (usap tenggorok)
digunakan untuk optimasi
metode direct PCR dibandingkan dengan PCR standard sebagai
kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa direct PCR dapat digunakan untuk deteksi
dan amplifikasi gen
target dengan benar
seperti halnya PCR
standard sehingga pada
seluruh sampel C. diphtheriae tampak
pita pada 168 bp (penanda gen
dtxR) dan 551 bp (penanda
gen tox). Sebaliknya
pada sampel lain tidak
tampak pita pada
kedua tempat tersebut.
Direct PCR dapat
mendeteksi sel bakteri
sampai dengan 71
CFU/uL. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa direct PCR dapat digunakan
sebagai metode diagnostik alternatif untuk membantu menegakkan diagnosis
difteri secara cepat, mudah dan hemat.
Penulis: Sunarno, Aulia Rizki,
Kambang Sariadji, Amarila Malik, Anis Karuniawati dan Amin Soebandrio
Kode Jurnal: jpkedokterandd130116