PENGATURAN LALU LINTAS DENGAN JEMBATAN LAYANG PADA PERSIMPANGAN JALAN TANJUNGPURA – JALAN SULTAN HAMID II – JALAN IMAM BONJOL – JALAN PAHLAWAN

Abstrak: Kepadatan  lalu  lintas  sering  terjadi  pada  jam-jam  sibuk  di  mana  sering  terjadi  kemacetan  pada sebagian  jalan  raya  penting  di  Pontianak.  Persimpangan  Jalan  Tanjungpura  –  Jalan  Pahlawan  – Jalan  Imam  Bonjol  –  Jalan  Sultan  Hamid  II  merupakan  akses  utama  menuju  Jembatan  Kapuas  I dan  menghubungkan  juga  dengan  lembaga  pendidikan,  perkantoran,  pasar,  pertokoan  dan pemukiman  sehingga  dapat  menyebabkan  konflik  arus  lalu  lintas  pada  persimpangan  yang  dapat menghambat  kelancaran  arus  lalu  lintas.  Untuk  merencanakan  suatu  persimpangan  yang  baik perlu  adanya  volume  lalu  lintas  dari  persimpangan  itu  sendiri.  Volume  lalu  lintas  ini didapatkan  dari  hasil  survei  lalu lintas yang dilaksanakan pada hari Jum’at, Sabtu, Minggu dan Senin. Metode pengambilan data dilakukan dengan alat bantu  handycam yang diletakkan di  atas  gedung  untuk  menangkap  gambar  keseluruhan  dari  persimpangan  yang  akan  diteliti. Kemacetan  yang  terjadi  pada  persimpangan  dikarenakan  adanya  konflik  dari  empat  arus. Perencanaan  jembatan  layang  dipakai  type  interchange  diamond  dengan  pertimbangan  luas lahan  yang  terbatas  di  lapangan  dan  kaki-kaki  jembatan  diletakkan  pada  ruas  Jalan Tanjungpura dan Jalan Imam Bonjol dengan pemikiran bahwa kedua jalan ini masih mungkin untuk  dilebarkan  dan  lebih  efektif  untuk  mengalirkan  arus  yang  besar.  Setelah  dibangun jembatan  layang,  nilai  derajat  kejenuhan  diperoleh  sebesar  0,1205 dan  pada  persimpangan  di bawahnya masih memakai lampu lalu lintas untuk mengendalikan arus yang ada. 
Kata-kata kunci:  persimpangan,  kemacetan,  type  interchange  diamond,  derajat  kejenuhan, jembatan laying
Penulis: Yanti Dewi Astuti
Kode Jurnal: jptsipildd120068

Artikel Terkait :