Epistemologi Pragmatisme : Dalam Pendidikan Kita
Abstract: Menurut aliran
pragmatisme hakikat dari realitas adalah segala sesuatu yang dialami oleh
manusia. Ia berpendapat bahwa inti dari realitas adalah pengalaman yang dialami
manusia. Ini yang kemudian menjadi penyebab bahwa pragmatisme lebih memperhatikan
hal yang bersifat keaktualan sehingga berimplikasi pada penentuan nilai dan
kebenaran. Dengan demikian nilai dan kebenaran dapat ditentukan dengan melihat
realitas yang terjadi di lapangan dan tidak lagi melihat faktor-faktor lain
misal dosa atau tidak.
Hal ini senada dengan apa yang dikataka James, “Dunia nyata adalah dunia
pengalaman manusia”. Apa fokus pendidikan kita sekarang. Secara umum, alam
menjadi titik sentral pendidikan; alam menjadi tujuan. Manusia menjadi
"budak" dari alam; ilmu, teknologi dan dan hal-hal yang bersifat
pragmatis mengambil tempat paling penting. Pendidikan yang berpusat pada
manusia semakin tersingkir. Ini tidak lepas dari sosok yang paling berpengaruh
dalam dunia pendidikan, John Dewey. Ia tokoh pendidikan Amerika Serikat pada
awal dan pertengahan abad ke-20 dan menggulirkan konsep pragmatisme. Dewey
mengatakan bahwa pendidikan adalah penyesuaian pribadi yang bertumbuh terhadap
lingkungannya (education is "adjusment of the growing personality to its
environment”). Ia membuat lingkungan menjadi pusat pendidikan. Bagi Dewey,
manusia itu harus disesuaikan terhadap lingkungannya tanpa menyebut definisi
"lingkungan" (environment) secara jelas".
Kata Kunci: Realitas
Pragmatisme, Epistemology Pragmatisme, Nilai Moral Pragmatis
Penulis: Rum Rosyid
Kode Jurnal: jpsosiologidd100006