Perbedaan Kadar Feritin Serum Pada Penyandang Talasemia β Mayor yang Mengalami Hipotiroid dan Eutiroid
Abstrak: Komplikasi penumpukan
besi pada organ tiroid berupa hipotiroid. Sebagian besar penelitian yang meneliti
hubungan feritin serum dan hipotiroid mendapatkan hasil yang tidak bermakna.
Penumpukan besi pada organ dapat dipengaruhi oleh faktor genetik sehingga
menyebabkan perbedaan hasil penelitian.
Tujuan. Menentukan perbedaan feritin serum pada penyandang talasemia β
mayor dengan hipotiroid dan eutiroid.
Metode. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional rancangan
cross sectional pada penyandang talasemia β mayor di poliklinik anak
Hemato-Onkologi RSUP Dr. Hasan Sadikin. Subjek diperiksakan TSH, FT4, T3 dan
feritin, dibagi menjadi kelompok hipotiroid dan eutiroid, kemudian
diklasifikasikan menjadi hipotiroid nyata, subklinis, sekunder dan eutiroid.
Analisis menggunakan Uji Mann Whitney dan Kruskall Wallis.
Hasil. Subjek penelitian 68 anak, 38 subjek (55%) mengalami hipotiroid.
Feritin serum kelompok hipotiroid 3275 ng/dL, berbanding 3648 ng/dL pada
eutiroid, tidak berbeda bermakna (p=0,443). Terdapat hubungan feritin serum
dengan klasifikasi hipotiroid. Feritin serum berdasarkan klasifikasi hipotiroid
nyata, subklinis, sekunder dan eutiroid secara berurutan sebesar 6575, 2687,
4089, dan 3648 ng/mL (p=0,027). Analisis posthoc mendapatkan hipotiroid nyata
dan subklinis berbeda bermakna.
Kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan feritin serum tidak berbeda
pada kelompok hipotiroid dan eutiroid, tetapi berbeda pada hipotiroid nyata dan
subklinis. Hasil penelitian mendorong dilakukan evaluasi profil tiroid secara
rutin sejak dini.
Kata Kunci: Talasemia β mayor;
feritin; hipotiroid; eutiroid
Penulis: Burhan Nasaruddin,
Susi Susanah, Sri Sudarwati
Kode Jurnal: jpkedokterandd170656