PATOFISIOLOGI KASUS SKLERODERMA PADA DISFAGIA ESOFAGUS


ABSTRACT: Disgafia adalah kesulitan menelan yang dapat disebabkan oleh kelainan kongenitalatau kelainan sistemik seperti skleroderma. Skleroderma merupakan penyakit autoimun kronis denganinsidens yang jarang yaitu 20:1.000.000. Skleroderma akan menyebabkan atrofi otot polos dan fibrosis padaesofagus sehingga menyebabkan Barrett’s esophagus, striktur, bahkan keganasan.
Tujuan: Mengetahuidan memahami patofisiologi disfagia fase esofagus yang disebabkan oleh skleroderma sehingga dapatmemberi tata laksana yang optimal.
Kasus: Perempuan berusia 31 tahun dengan disfagia fase esofaguse.c. skleroderma. Skleroderma menyebabkan atrofi dan fibrosis otot polos yang menimbulkan dismotilitasesofagus sehingga gerakan peristaltik hilang secara progresif, sfingter esofagus inferior melemah,pengosongan esofagus tertunda, dan terjadi refluks gastroesofagus.
Penatalaksanaan: Terapi suportif:Ringer Laktat (RL) 20 tpm, metil-prednisolon 125 mg 1/3-0-0, ranitidin 50 mg 1-0-1, omeprazole 20mg/12 jam, chlorpheniramin maleat (CTM) 4 mg/8 jam, soft U derm lotion topical setiap 12 jam. Terapikonservatif: pengaturan diet, berbaring dengan kepala ditinggikan, obat antasida, agen prokinetik,dan antisekretorik.
Kesimpulan: Disfagia fase esofagus dapat disebabkan oleh skleroderma, denganmemahami patofisiologinya maka akan dapat memberikan tatalaksana yang tepat.
Kata kunci: Skleroderma, disfagia esofagus, patofisiologi
Penulis: Nancy Liwikasari, Muyassaroh
Kode Jurnal: jpkedokterandd160732

Artikel Terkait :