KONSEP INGSUN DALAM SASTRA SUFI JAWA: Analisis Terhadap Ingsun Siti Jenar
Abstract: Pembicaraan tentang
Syekh Siti Jenar dan ungkapannya Iya Ingsun iki Allah menimbulkan polemic di
kalangan masyarakat, hingga melahirkan kesimpulan bahwa Syekh Siti Jenar
mengaku sebagai Tuhan, Allah. Namun membaca teks-teks sufisme Jawa, tidak bisa
hanya membaca dan memaknai secara harfiah suatu ungkapan yangterpisah. Begitu
pula membaca pernyataan Syekh Siti Jenar Iya Ingsun iki Allah.Untuk memahaminya
diperlukan rujukan lain seperti Suluk Acih, Serat Suluk Walisana, dan tiga
Serat Siti Jenar masing-masing karya Raden Sasrawijaya, Raden Mas Ngabehi
Mangunwijaya, dan Raden Mas Harjawijaya. Berdasarkan pada tiga pembacaan
terhadap teks-teks tersebut dengan menggunakan pendekatan integrasiinterkoneksi
tekstual, dapat disimpulkan bahwa ingsun mempunyai arti yang tidak tunggal.
Dalam hal ini ingsun berarti, hakikat Tuhan, ingsun sebagai ungkapan puncak
rohani, ingsun sebagai representasi manusia sempurna, dan ingsun sebagai bentuk
pembicaraan dua orang yang mempunyai derajat yang sama atau saling marah. Dijatuhkannya
hukuman pada Syekh Siti Jenar atas pertimbangan social politiksemata. Karena
pada kenyataannya para wali tidak menolak konsep-konsep ingsun yang ada dalam
ajaran sufisme Siti Jenar.
Penulis: Aris Fauzan
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd110313