Pengujian Efek Antikalkuli dari Herba Seledri (Apium graveolens L.) secara In Vitro
Abstrak: Tanaman seledri
(Apium graveolens L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder antara
lain flavonoid, polifenol, dan kuinon. Tanaman seledri selain untuk bumbu
masakan dan sayuran, telah lama digunakan sebagai obat tradisonal untuk penurun
tekanan darah tinggi (hipertensi), diuretik, dan hematuria. Penelitian ini
bertujuan untuk mengungkap khasiat lain dari tanaman seledri sebagai
antikalkuli atau peluruh batu ginjal. Pengujian efek antikalkuli (bagian dari
uji preklinis) dilakukan secara in vitro yaitu dengan menguji tingkat kelarutan
komponen batu ginjal (kalsium oksalat atau magnesium ammonium fosfat) sebagai
solut (100 mg serbuk batu) dalam berbagai variasi konsentrasi sediaan cair
seledri sebagai solven dibandingkan dengan solven air (volumen= 10 mL, suhu= 37
oC, waktu= 4 dan 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan infusa
seledri pada konsentrasi 1,3; 3,3; dan 5,0% dapat melarutkan komponen kalsium
dan magnesium batu ginjal dengan tingkat kelarutan yang secara signifikan lebih
besar dibandingkan kelarutan dalam air sebagai kontrol negatif (konsentrasi 5%,
Ca: 4,657 vs 199 ppm, Mg: 9,912 vs 9,37 ppm). Sementara fraksi air dari ekstrak
metanol seledri juga menunjukkan daya larut yang signifikan terhadap baik
kalsium maupun magnesium komponen batu ginjal pada konsentrasi pada 0,5%
dibandingkan air (Ca: 3,7 vs 1,5 ppm dan Mg: 25,9 vs 14,5 ppm). Hasil tersebut
dapat disimpulkan bahwa herba seledri memiliki potensi sebagai peluruh batu
ginjal dengan mekanisme melarutkan kristal komponen batu ginjal.
Penulis: Taofik Rusdiana,
Sriwidodo Sriwidodo, Jajan Solahudin, Eli Halimah, Aep W Irwan, Suseno Amin,
Sri A Sumiwi, Marline Abdassah
Kode Jurnal: jpfarmasidd150299