SIMULASI PREDIKSI POLA TATA TANAM DI DAS TIRTOMOYO BERDASARKAN NERACA AIR
Abstrak: Kecamatan Tirtomoyo
ini memiliki berbagai macam lahan potensial khususnya dalam bidang pertanian.
Penggunaan lahan yang paling dominan di daerah ini adalah tegalan, yaitu seluas
10.783 Ha (47%). Sedangkan penggunaan lahan untuk hutan hanya 106 Ha (1%) yang
mayoritas daerahnya memiliki kemiringan sebesar > 25 %. Hampir di sebagian
besar wilayah Wonogiri memiliki tanah dengan jenis kapur dan banyak ditumbuhi
pohon jati, padahal tanah dengan jenis ini beserta pohon jati tidak dapat
menyerap air dengan baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perhitungan simulasi prediksi
pola tanam di DAS Tirtomoyo berdasarkan neraca air yaitu dengan Metode
Thornthwaite. Dengan metode ini akan diketahui kapan adanya kelebihan air
(surplus) dan kekurangan air (defisit). Setelah diketahui, penelitian ini bisa
diaplikasikan untuk dibuat prediksi pola tanam di DAS Tirtomoyo dan
disimulasikan dengan DAS-DAS lain di sekitarnya.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif,
dengan teknik pengumpulan data dari sumber atau instansi terkait sehingga
penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder.
Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa pada pola tanam simulasi
didapat surplus sebesar 13,00 m3/dt pada bulan Januari dengan kebutuhan air
sebesar 5,32 m3/dt dan ketersediaan air sebesar 18,26 m3/dt. Sedangkan pada
pola tanam eksisting (pemerintah) didapat defisit sebesar -149,20 m3/dt pada
bulan November dengan kebutuhan air sebesar 7,17 m3/dt dan ketersediaan air
sebesar -142,03 m3/dt. Jika membandingkan antara perhitungan neraca air
eksisting pemerintah dengan neraca air simulasi, neraca air simulasi adalah
yang paling baik.
Sesuai dengan grafik pola tanam, pada bulan Februari terdapat
ketersediaan air yang melimpah sehingga cocok digunakan untuk penanaman padi
dan bulan Oktober digunakan untuk penanaman palawija. Sedangkan pada grafik
pola tanam eksisting (pemerintah) menurut kalender tanam, penanaman padi
dilakukan pada bulan November padahal pada bulan tersebut kurang cocok untuk penanaman
padi karena kurangnya ketersediaan air. Untuk penanaman palawija dilaksanakan
pada bulan Maret karena pada bulan tersebut ketersediaan air sangat melimpah.
Semakin besar luasan tanam, semakin banyak pula kebutuhan air tanamnya.
Penulis: Ferry Dirgantoro
Wicaksono, Suyanto Suyanto, Siti Qomariyah
Kode Jurnal: jptsipildd150304