PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP SIFAT MEKANIK KOMPOSIT POLYESTER BERPENGUAT SERAT GLASS
ABSTRACT: Model analisis
perilaku mekanik komposit polimer yang sering disajikan oleh peneliti
didasarkan pada asumsi kondisi lingkungan (hygrothermal) yang konstan. Namun
dalam kenyataannya, aplikasi material komposit sering kali berada pada kondisi
lingkungan yang tidak konstan atau selalu berubah seperti pada blade turbin
angin, panel cool box ikan dan perahu berbahan fiber glass yang selalu bekerja
pada kondisi kelembaban dan temperatur yang berubah. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh perendaman terhadap sifat tarik dan sifat bending
komposit serat glass dengan fraksi volume serat (Vf) sebesar 40 %. Bahan yang
digunakan pada penelitian ini adalah serat glass dan resin poliester. Spesimen
uji tarik dibuat sesuai standar ASTM D638 sedangkan spesimen uji bending sesuai
standar ASTM D790. Spesimen uji dicetak dengan metode hand lay up diikuti
dengan penekanan dan dibiarkan selama 24 jam. Selanjutnya komposit hasil
cetakan dipotong sesuai standar uji tarik dan bending, kemudian spesimen uji
tersebut diberi perlakuan yang berbeda yakni perendaman dalam air dan air laut
serta dibiarkan di lingkungan terbuka (di atap rumah) selama 30 hari. Proses
pengujian tarik dan bending dilakukan sesaat setelah spesimen dikeluarkan dari
dalam air, dengan terlebih dahulu ditimbang sehingga dapat diketahui persentase
penyerapan air. Hasil persentase kadar air komposit cenderung meningkat seiring
dengan semakin lamanya waktu perendaman namun kenaikan hanya 0,0145 % untuk
spesimen uji bending dan 0,0166 % untuk spesimen uji tarik. Sedangkan hasil
pengujian tarik menunjukkan bahwa spesimen yang direndam dalam air selama 30
hari memiliki kekuatan tarik terendah yakni sebesar 84,47 MPa, sedangkan
kekuatan tarik tertinggi sebesar 176,80 MPa yang diperoleh pada spesimen uji
tanpa perlakuan perendaman. Hasil uji bending pun menunjukkan bahwa spesimen
direndam dalam air selama 30 hari memiliki kekuatan bending terendah yakni
sebesar 113,77 MPa, sedangkan kekuatan bending tertinggi sebesar 279,40 MPa
yang diperoleh pada spesimen uji tanpa perlakuan. Hasil foto makro menunjukkan
adanya patahan getas, debonding, dan delaminasi pada spesimen uji bending,
begitu pula pada spesimen uji tarik terlihat adanya patahan getas, debonding
dan delaminasi.
Penulis: Jusuf Tododjahi,
Kristomus Boimau, Ishak Limbong
Kode Jurnal: jptmesindd140413