PENGARUH NILAI BANDING BENTANG GESER (a) TERHADAP TINGGI EFEKTIF (d) PADA BALOK DENGAN SENGKANG MIRING DITINJAU DARI KUAT LENTUR DAN GESER
Abstract: Faktor yang
mempengaruhi perilaku dan kekuatan geser balok beton bertulang dengan tumpuan
sederhana sangat banyak. Menurut Chu-Kia Wang dan Charles G. Salmon (1986:
127-129) dari berbagai hasil eksperimen menunjukkan bahwa nilai banding bentang
geser (a) terhadap tinggi efektif (d) ternyata merupakan faktor yang sangat
berpengaruh dalam perencanaan kekuatan geser pada balok. tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh nilai banding bentang geser (a) terhadap
tinggi efektif (d) pada balok dengan sengkang miring ditinjau dari kuat lentur
dan geser.
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode uji labortorium. Benda uji yang
digunakan dalam penelitian ini berupa balok berjumlah 6 buah untuk
masing-masing variasi rasio bentang geser dan tinggi efektif (a/d). Penelitian
ini dilaksanakan di Laboratorium Beton Jurusan Teknik Sipil Unesa. Model
pengujian pada penelitian ini menggunakan uji geser balok (1< a/d <6).
Hasil penelitian dengan menggunakan mutu beton (fc’)= 19,57 MPa, didapat
nilai banding bentang geser (a) terhadap tinggi efektif (d) pada balok
berpengaruh pada kuat lentur dan geser. Semakin besar nilai banding bentang
geser (a) terhadap tinggi efektif (d) pada balok maka semakin menambah kekuatan
momen lentur dan mengurangi kekuatan geser tekan. Kuat geser aktual (Vu) pada
model benda uji BLK1 meningkat sebesar 125,75% terhadap BK, dan peningkatan
kuat geser tulangan (Vs) pada model benda uji BLK1 sebesar 63,19% terhadap
BLK1. Momen retak awal (Mcr) pada model benda uji BK Mcr aktual = 3,5 kN, pada
model benda uji BLK1 Mcr aktual = 1,56 kN, BLK2 Mcr aktual = 5,01 kN, BLK3 Mcr
aktual = 7,51 kN, BLK4 Mcr aktual = 10,01 kN dan BLK5 Mcr aktual= 12,52 kN.
Lendutan pada beban yang sama (17,88kN) didapat lendutan pada BLK 4 lebih kecil
hingga 26,13% dibanding BK. Kuat geser (Vu) pada model benda uji BLK1 terjadi
pada beban 58,11 kN dengan keruntuhan geser-lentur, pada model benda uji BLK2
terjadi pada beban 58,11 kN dengan keruntuhan geser-lentur, pada model benda
uji BLK3 terjadi pada beban 49,17 kN dengan keruntuhan geser-lentur pada model
benda uji BLK4 terjadi pada beban 44,7 kN dengan keruntuhan geser-lentur pada
model benda uji BLK5 terjadi pada beban 40,23 kN dengan keruntuhan geser-lentur,
pada model benda uji BK1 terjadi pada beban 27,21 kN dengan keruntuhan
geser-lentur.
Penulis: YASRIL MAHENDRA
AL-AYYUBI, BAMBANG SABARIMAN
Kode Jurnal: jptsipildd150230