Evaluasi Tarif Berdasarkan Biaya Operasional Kendaraan (BOK), Ability To Pay (ATP), Willingness To Pay (WTP), dan Analisis Break Even Point (BEP) Bus Batik Solo Trans (Studi Kasus: Koridor 2)
Abstrak: Tarifharusdapat menjembatani kepentingan penumpangselakukonsumendan
pengelola angkutan umum karena menyangkut kelangsunganoperasiangkutan.Angkutan
bus BST merupakanangkutan bus kota yang
saatinisedangdigalakkanpengoperasiaannya di daerah Surakarta.Penilitian ini
bertujuan melakukan evaluasi terhadap tarif yang berlaku terhadap BOK dari
operator dan ATP, WTP dari penumpang. Pada penelitian ini data di dapatkan
dengan penyebaran kuisioner kepada pengguna angkutan bus BST koridor 2 dan juga
wawancara dengan PT. BST sebagai pengelola bus BST. Data yang didapat kemudian
di analisis. Hasil analisis data selanjutnya digunakan untuk mengetahui
besarnya BOK, ATP, WTP serta nilai BEP pada bus BST Koridor 2. Dalam hal ini
penghitungan BOK menggunakan 3 metode yaitu Dephub, DLLAJ, FSTPT serta
dilakukan dalam 2 skenario. Skenario 1 yaitu kondisi dimana operator membeli
bus baru, sedangkan skenario 2 adalah kondisi dimana bus merupakan hibah dari
pemerintah. Penghitungan ATP dan WTP dilakukan pada 2 hari, yaitu hari kerja
dan libur.Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada skenario 1 penghitungan
BOK menurut metode DepHub sebesar Rp. 5.312,90, metode DLLAJ sebesar Rp.
5.214,86, dan metode FSTPT sebesar Rp. 4.820,28. Pada skenario 2 terjadi
penurunan sebesar 13 – 14 % dibanding skenario 1. Jika dilihat nilai BOK, tarif
saat ini masih dibawah dari nilai BOK. Berdasarkan ATP pada hari kerja sebesar
Rp 3.497,81 untuk kategori umum dan Rp. 2.001,05 untuk kategori pelajar.
Sedangkan pada hari libur sebesar Rp. 3.500,26 untuk kategori umum dan Rp.
2.474,46 untuk kategori pelajar. Besarnya nilai WTP pada hari kerja sebesar Rp.
3.374,68 untuk kategori umum dan Rp 2.093,75 untuk kategori pelajar, pada hari
libur sebesar Rp. 3.351,87 untuk kategori umum dan Rp 3.125,- untuk kategori
pelajar. Hal ini menunjukkan nilai ATP & WTP sudah mendekati dengan tarif
yang berlaku saat ini, walaupun pada kategori umum nilai ATP & WTP sedikit
dibawah dari tarif yang berlaku. Nilai BEP berdasarkan load factor pada hari
kerja sebesar 0,39 dan pada hari libur sebesar 0,34 pada skenario 1.
Penghitungan nilai BEP pada skenario 2 terjadi penurunan sebesar 13 – 14 %
dibanding skenario 1. Selain itu, pada skenario 1 membutuhkan waktu 13,78 tahun
untuk impas dan membutuhkan waktu 1,9 tahun pada skenario 2.
Kata kunci: tarif, Biaya
Operasional Kendaraan (BOK), ability to pay (ATP), willingness to pay (WTP),
Break Even Point (BEP), Batik Solo Trans (BST).
Penulis: Albertus Ryan
Krisnanto, Slamet Jauhari Legowo, Budi Yulianto
Kode Jurnal: jptsipildd150275