SIFAT MAGNETIK SEDIMEN SUNGAI SEBAGAI INDIKATOR PENCEMARAN (STUDI KASUS: SUNGAI CITARUM KABUPATEN KARAWANG)
Abstrak: Sungai
Citarumsangatpentingbagikehidupansocialekonomimasyarakat yang tinggal di
sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Selain digunakan sebagai sumber air
minumoleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), irigasi pertanian dan perikanan,
pembangkit listrik tenaga air, DAS Citaum juga dijadikan sebagai daerah buangan
limbah pabrik dan rumah tangga. yang berpotensi sebagai sumber pencemar.
Menyadari bahwa keberadaan Sungai Citarum ini sangat penting, maka diperlukan
monitoring dan evaluasi terhadap pencemaran air Sungai Citarum. Metode
kemagnetan batuan sebagai suatu metode yang cepat dan mudah, dapat digunakan
sebagai proxy indicator pencemaran air Sungai Citarum melalui pengukuran
suseptitibilitas magnetik. Penggunaan metoda ini didasarkan pada kelimpahan
mineral magnetik yang terkandung dalam setiap bahan di alam. Bahan yang akan
digunakan sebagai sampel untuk menduga pencemaran air adalah sedimen DAS
Citarum. Nilai suseptibilitas magnetik diukur dengan menggunakan alat Bartington
MS2B yang beroperasi pada dua frekuensi, 470 Hz dan 4700 Hz. Hasil pengukuran
menunjukkan urutan daerah yang memiliki suseptibilitas magnetik yang diukur
pada 470 Hz(XLF), dari yang terbesar hingga terkecil adalah Walahar, Waduk
Jatiluhur, Curug Klari, Tunggakjati, Medangasem-Jayakerta, dan PDAM. Pengukuran
suseptibilitas magnetik dilakukan pula pada frekuensi yang lebih tinggi (XHF),
yaitu 4700 Hz. Perbedaan relatif nilai suseptibilitas magnetik yang diukur pada
dua frekuensi disebut sebagai suseptibilitas bergantung frekuensi
(XFD).Pengukuran suseptibilitas magnetik pada dua frekuensi tersebut
menunjukkan bahwa sampel pada daerah kajian memiliki nilai XFD (%) kurang dari
4 %.Nilai suseptibilitas bergantung frekuensi yang rendah (1-4%) sering
ditemukan pada tanah yang terkontaminasi.Berdasarkan hal tersebut, dapat diduga
bahwa mineral magnetik di daerah kajian berasal dari sumber antropogenik.Dugaan
bahwa sumber mineral magnetik merupakan sumber antropogenik didukung oleh
analisa statistik yang menunjukkan korelasi negatif antara XLF dan XFD. Adanya
korelasi negatif antara XLF dan XFD mengindikasikan bahwa mineral magnetik
berasal dari polusi industri.
Penulis: Kartika H. Kirana,
Dini Fitriani, Eddy Supriyana, Eleonora Agustine
Kode Jurnal: jpfisikadd140804