DINAMIKA PARTAI MASYUMI PADA MASA REVOLUSI FISIK (1945–1949)
Abstract: Masa pendudukan
Jepang menjadi tahap yang fundamental bagi kelahiran Partai Masjumi.
Pemerintahan militer Jepang, melalui kebijakan politiknya berupaya memasukkan
Islam Indonesia sebagai bagian dari politik perangnya, yang saat itu disebut
“Lingkaran Kesejahteraan Bersama Asia Raya”. Pada bulan November 1943 lahirlah
Masjumi pertama, Madjelis Sjoero Moeslimin Indonesia. Masyumi menjadi sarana
baru bagi Jepang untuk menarik simpati masyarakat muslim agar mendukung
kepentingan perang Jepang yang terlihat mulai terdesak. Pada bulan Februari
1945, Masyumi mendapatkan keuntungan dari usaha pemerintah Jepang untuk
mengurangi pengaruh kaum nasionalis dengan mengadu domba dengan kubu Islam.
Pada Januari 1944, pergerakan nasionalis dihabisi dari pengaruh-pengaruhnya sebagai
representasi perjuangan rakyat Indonesia. Seiring dengan hal tersebut Jepang
memberikan keleluasaaan pergerakan Masyumi hingga kesuluruh wilayah Nusantara.
Masyumi berbeda dengan organisasi Islam lain yang lahir sebelumnya, selama
kurun waktu setahun sejak pendiriannya Masyumi mampu melakukan pekerjaan yang
tak pernah dilakukan sebelumnya oleh organisasi lainnya. Diantara lain
membangun jaringan keseluruh pelosok Nusantara, merekrut milisi dalam jumlah
yang besar dan menyatukan berbagai kelompok perjuangan kaum Islam. Partai
Masyumi dibentuk menjadi partai politik agar senantiasa dapat menyalurkan
aspirasi politik umat Islam Indonesia saat itu.
Penulis: Alfi Hafid Ishaqro
Kode Jurnal: jpsejarah&umumdd150173