Perilaku Ritual Warok Ponorogo Dalam Perspektif Teori Tindakan Max Weber
Abstract: Latar belakang
penelitian ini didasari fenomena empiris bahwa ada sebagain masyarakat
Ponoroogo tepatnya kalangan warok yang sampai sekarang masih eksis dalam
tradisi perilaku ritualnya dalam upaya mempertahankan jati diri ketimuran
sekaligus untuk mempertahankan daya mesitik mereka. Munculnya perilaku rirtual
ini sebagai respon positif terhadap tantangan global yang semakin menggerus
budaya local.
Terdapat kemiripan dalam terminology antara warok Ponorogo dengan wara’
(sufi) istilah wara’ yaitu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang mengandung
subhat (sesuatu yang belum diketahui hukumnya), wara’ adalah status social bagi
seorang yang menempuh jalan sufi, status tersebut secara berurutan taubah,
wara, zuhud, tawakal, sabar, dan kerelaan, sedangkan warok dalam terminology
budaya Ponorogo adalah sebuah nama yang sekaligus symbol dari kelas dan status
social yang tinggi di kalangan masyarakat, beberapa ajaran warok yang dijunjung
tinggi disebut dengan sembilan kautaman.
Untuk mempertahankan daya mistik warok pada tahap awal dimulai dengan
mensucikan diri dengan tiga patrap (aktifitas) yaitu sucining suwara, sucininng
tenogo, sucining roso. Selajutnya setelah melakukan tiga patrap diatas tahap
berikutnya adalah melakukan lakon tirakat dengan mengurangi makan, mengurangi
tidur dan mencegah sahwat, bersamaan dengan lakon ini mereka juga harus
meninggalkan sirikan (pantangan ) yaitu molimo maling, madat, main, minum,
madon dan ditambah dua macam yaitu madani dan mateni. Selajnutnya mereka harus
melakukan puasa, ada sembilan macam puasa di kalangan warok yaitu puasa ngrowot,
puasa ngidang, puasa mendem, puasa pate geni, puasa mutih, puasa ngalong, puasa
ngasrep, puasa ngepel, dan puasa ngebleng.
Dalam pespektif teori tindakan Max Weber perilaku diatas bisa
diklasifikasikan dalam tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan ini
terarah pada nilai, bersifat rasional dan mampehitungkan manfaatnya, tetapi
tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku
hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk criteria baik
dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat
Penulis: Amal Taufiq
Kode Jurnal: jpsosiologidd130441