FENOMENOLOGI KIMCIL SMK SWASTA SIDOARJO DI KALANGAN KOMUNITAS MUSIK UNDERGROUND
Abstrak: Kimcil merupakan
singkatan dari kimpet (kelamin) cillik. Di dalam kalangan Underground, kimcil
merupakan istilah yang diciptakan oleh laki-laki untuk perempuan ABG usia 15-18
tahun penganut seks bebas. Penelitian ini memfokuskan pada motif-motif seksual yang
dilakukan oleh kimcil yang selalu menimbulkan sensasi seperti halnya berpakaian
seksi, suka berfoto di area stage dengan pose yang tidak seronoh, merokok, dan
suka mempromosikan dirinya yang memang suka akan seks melalui media sosial
messengger seperti halnya BBM (Blackberry Messengger). Semua dilakukan
semata-mata guna menarik perhatian lawan jenis di kalangan komunitas musik
underground. Penelitian ini menggunakan teori Fenomenologi dari Alfred Schutz
yang memfokuskan pada motif (sebab dan tujuan) yang tidak lepas dari
intersubjektivitas, yakni sebuah tindakan yang dilakukan murni berdasarkan
proses interaksi individu yang terjalin beserta pengalaman masa lalu pada
individu serta ruang lingkup sosialnya. Subyek penelitian ini adalah perempuan
disalah satu SMK Swasta di Sidoarjo yang tergabung pada suatu familly atau
komunitas musik Underground . Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan
wawancara sedangkan pada teknik analisis data menggunakan model analisis
interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Hubberman, teknik analisis ini
menggunakan tiga tahap diantaranya yakni reduksi data, display atau penyajian
data dan yang terakhir kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kimcil
yang menjalin hubungan dengan banyak laki-laki dan melakukan aktivitas seks
bebas dengan segala sensasi yang diciptakannya tersebut memiliki motif sebab
karena kurangnya perhatian keluarga, lingkungan pergaulan yang menarik,
pengalaman seks di masa lalu, suka sama suka, kesenangan semata (kesenangan
akan seks), dan kurang terpenuhinya kebutuhan secara ekonomi. Motif tujuannya
yakni agar terkenal di kalangannya, menyalurkan hasrat seksual, seks sebagai
perlawanan, sensasi seks yang berbeda, mendapatkan perlakuan lebih (hadiah
berupa materi atau barang).
Penulis: DHIMAS REZA IRAWAN,
M. Jacky
Kode Jurnal: jpsosiologidd160067