RELASI AGAMA DAN NEGARA PERSPEKTIF KH. A. WAHID HASYIM DAN RELEVANSINYA DENGAN KONDISI SEKARANG

Abstrak:  KH.  A.  Wahid  Hasyim  merupakan  pemikir  progresif  dan dinamis. Sebagai agamawan, ia konsisten dalam pemikiran keislaman. Sebagai negarawan, ia mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Pengorbanan  yang  layak  dicatat  adalah  meskipun  ia  memperjuangkan Islam  sebagai  dasar  negara  dengan  mendukung  pencantuman  tujuh anak  kalimat  dalam  Piagam  Jakarta,  namun  ia  rela  menghapus  tujuh kata itu, demi mengutamakan persatuan dan keutuhan bangsa. Dalam khazanah keilmuan politik Islam, ia tergolong pemikir substansialis yang mendukung  relasi  agama  dan  negara  dalam  corak  relasi  simbiotik. Hingga  kini,  pemikiran  puluhan  tahun  lalu  itu  tetap  relevan diimplementasikan  dalam  konteks  beragama,  berbangsa  dan bernegara. Tak cukup hanya membaca dan mengkaji pemikiran KH.A. Wahid  Hasyim,  yang  lebih  penting  adalah  mengaplikasikan  gagasangagasan  KH.A.Wahid  Hasyim  dalam  konteks  keislaman  dan keindonesiaan.  Sikap  dan  pandangan  moderat  (tawazun),  toleran (tasamuh),  mengambil  jalan  tengah  (tawassuth),  dan  bersikap  adil (i‟tidal),  yang  dianut  merupakan  pilihan  tepat  yang  inklusif  dan akomodatif  dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara.  Dengan demikian,  sikap  dan  pendangannya  masih  relevan  untuk diimplementasikan  dalam  kondisi  sekarang.  Pribadi,  jejak  langkah  dan perjuangan  KH.A.  Wahid  Hasyim,  sebagai  tokoh  besar,  layak  untuk diteladani.
Kata  Kunci:  KH.  Wahid  Hasyim,  relasi  agama  dan  negara,  relevansi dengan kondisi sekarang
Penulis: Rijal Mumazziq Zionis
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd150026

Artikel Terkait :