KONSTRUKSI SOSIAL PRAKTEK MENGEMIS MASYARAKAT DESA KELAMPAYAN, KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN
ABSTRAK: Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh permasalahan mengenai kebiasaan mengemis yang ada pada
masyarakat Desa Kelampayan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Mengemis pada
masyarakat Desa Kelampayan sudah menjadi praktek turun-temurun dan berlangsung
dari generasi ke generasi. Praktek mengemis yang sudah ada sejak lama pada
akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang sangat sulit untuk dihilangkan. Tujuan
penelitian ini adalah mencari tahu bagaimana praktek mengemis dapat terbentuk
dan konstruksi sosial seperti apa yang kemudian membuat praktek mengemis dapat
bertahan hingga saat ini.
Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan
fenomenologi. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teori Konstruksi
Sosial dari Peter. L. Berger. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian
mengenai Konstruksi Sosial Praktek Mengemis Masyarakat Desa Kelampayan, Kabupaten
Banjar, Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa praktek mengemis di Desa
Kelampayan terbentuk sekitar awal tahun 1900an diawali pasca dibangunnya kubah
dan kompleks pemakaman untuk seorang wali kenamaan Kalimantan Selatan. Pemicu
dari munculnya pengemis adalah karena tindakan dari seorang bangsawan kerajaan
yang awalnya berziarah ke makam sang wali sembari membagikan uangnya kepada
penduduk Desa Kelampayan, setelahnya apa yang dilakukan oleh si bangsawan
kemudian diikuti pula oleh peziarah lain yang berkunjung ke makam sang wali di
Desa Kelampayan. Maksud dan tujuan dari berbagi uang adalah untuk berbagi zakat
dan sebagai sebuah penteladanan kepada karomah (kelebihan) sifat yang dimiliki
oleh sang wali yang dimakamkan di Desa Kelampayan. Masyarakat Desa Kelampayan
kemudian memanfaatkan hal ini dan memanifestasikan tindakan yang dilakukan para
peziarah dengan mengemis. Dalam perkembangannya dari dulu hingga sekarang
terdapat beberapa aspek yang membuat praktek mengemis dapat terus bertahan,
diantaranya adalah karena adanya proses pembiasaan, legitimasi, dan proses
sosialisasi pada keluarga maupun lingkungan.
Penulis: RIZKY RAHMATILLAH
Kode Jurnal: jpsosiologidd150219