AKSI KOLEKTIF DALAM BERSEPEDA: Studi Banding Atas Sego Segawe (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe) dan JLFR (Jogja Last Friday Ride) di Kota Yogyakarta

Abstrak: Munculnya berbagai gerakan berbasis lingkungan merupakan respon atas krisis lingkungan hidup di Kota Yogyakarta. Atas inisiasi Mantan Walikota Yogyakarta, Sego Segawe (Sepeda nggo Sekolah lan Nyambut Gawe) dihadirkan pada 2008 sebagai gerakan bersepeda. Kultur bersepeda di Kota Yogyakarta yang  sedang  kondusif  dimanfaatkan  para  pesepeda  untuk melahirkan kegiatan bersepeda bernama JLFR (Jogja Last Friday Ride) pada 2010. Secara eksplisit, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menumbuhkan kesadaran warga untuk kembali menggunakan sepeda sebagai transportasi hijau. Meski demikian, terdapat perbedaan pada cara Sego Segawe maupun JLFR dalam menggalang aksi secara kolektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perbandingan pola sosialisasi Sego Segawe dan JLFR dalam menggalang aksi secara kolektif dan mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat keberlangsungan Sego Segawe dan JLFR. Penelitian ini berpijak pada teori Aksi Kolektif Alberto Melucci (1996 & 1989), konsep Sosialisasi dari Rush dan Althof (2007), dan 5 Mekanisme Sosialisasi menurut Damsar (2010). Penelit ian ini menggunakan metode kualitat if dengan pendekatan deskriptif komparatif. Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Tehnik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, display data dan terakhir ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara Sego Segawe dan JLFR pada pola sosialisasi yang dibagi menjadi 5 mekanisme sosialisasi: 1) imitasi: Sego Segawe menggunakan keteladanan Walikota dan Pegawai Balaikota, sedangkan JLFR menggunakan keteladanan komunitas sepeda; 2) instruksi: Sego Segawe menggunakan Surat Edaran (SE) sebagai himbauan bersepeda, namun aspek instruksi tidak terdapat pada JLFR; 3) desiminasi: Sego Segawe kurang memaksimalkan sarana komunikasi, sementara JLFR menggunakan sarana social media dengan intens; 4) motivasi: Sego Segawe menunjukkan dukungan melalui reward kepada pelajar sebagai duta sepeda, sedangkan JLFR menggalang dana untuk pesepeda korban kecelakaan; 5) penataran, Sego Segawe mengalami inkonsistensi pada pelaksanaan kampanye secara parsial, sedangkan JLFR melaksanakan kampanye secara rutin. Pada faktor pendorong dalam keberlangsungan Sego Segawe dan JLFR, antara lain; dukungan dari para komunitas sepeda, perawatan  infrastruktur  sepeda,  dukungan  sponsor,  iklim trend sepeda dan kemudahan akses internet. Adapun faktor penghambat pada Sego Segawe dan JLFR meliputi; arah pembangunan kota modern, gempuran industri otomatif, kondisi polit ik yang kurang kondusif, ketergant ungan pada figur dan tidak sedikit masyarakat yang kontra dengan kegiatan JLFR.
Kata Kunci: Sego Segawe, JLFR, Aksi Kolektif dan Sosialisasi
Penulis: Mohamad Jamal Thorik
Kode Jurnal: jpsosiologidd150224

Artikel Terkait :