KAJIAN UNJUK KERJA KELISTRIKAN ARESTER PORSELEN DAN ARESTER POLIMER PADA SISTEM TEGANGAN 20 KV
ABSTRACT: Pada pengujian
arester dalam kondisi kering, nilai arus bocor yang terukur pada arester
polimer lebih tinnggi daripada nilai arus bocor pada arester polimer. Tercatat
nilai arus bocor pada arester polimer pada pengujian dengan tegangan uji 5 kV
sebesar 6.3 μA. Sedangkan untuk nilai arus bocor pada arester porselen nilai
tegangan uji yang sama tercatat sebesar 40.5 μA. Untuk pengujian arester dalam
kondisi basah, arester diuji menggunakan tegangan 5 kV-20 kV dengan berbagai
tingkat pembasahan. Tingkat pembasahan yang digunakan adalah 2.75 – 4.02
liter/menit. Tingkat pembasahan mengacu pada intensitas curah hujan kota
Malang. Dalam kondisi basah, nilai arus bocor arester polimer lebih baik
dibandingkan nilai arus bocor arester porselen. Pada nilai tegangan uji dan
tingkat pembasahan yang sama, nilai arus bocor yang tercatat pada
microampermeter sebesar 6070 μA untuk arester porselen dan 38.38 μA untuk
arester polimer. Meningkatnya nilai arus bocor pada arester porselen
dikarenakan menurunnya nilai resistansi pada permukaan arester. Hal ini
disebabkan sifat dari permukaan kedua arester berbeda. Pada pengujian sudut
kontak kedua arester, diketahui bahwa arester porselen memiliki sudut kontak
sebesar 24.529°. Nilai tersebut masuk dalam kategori hidrofilik. Sedangkan
untuk arester polimer sudut kontaknya adalah 109.891°. Berdasarkan perhitungan
nilai sudut kontak, arester polimer dikategorikan bersifat hidrofobik atau
sifat menolak air.
Kunci kunci: arester, porselen, polimer, arus bocor, resistansi
permukaan, sudut kontak, hidrofilik, hidrofobik
Penulis: M. Iqbal Bayhaqi
Fauzi., Drs. Ir. Moch. Dhofir, M.T., Ir. Teguh Utomo, M.T
Kode Jurnal: jptlisetrodd140566