RUANG PUBLIK DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH - Studi Terhadap Pemilihan Walikota Bandung Tahun 2003
ABSTRAK: Desentralisasi dan
demokratisasi dalam era
reformasi telah mengubah proses
pemilihan kepala daerah menjadi peristiwa politik yang menarik dan sulit untuk
diprediksi. Dalam proses tersebut, terdapat berbagai kepentingan yang bertarung
dengan menggunakan bermacam-macam strategi,
termasuk melalui penggunaan bahasa
dalam pertarungan wacana.
Analisis terhadap pertarungan
wacana dilakukan dengan menggunakan metode analisis wacana (discourse analysis).
Indikator yang digunakan meliputi
setting, agents atau participants, political
actions, dan mutual
knowledge (basis kognisi)
yang membentuk pemaknaan dari wacana-wacana yang
saling berkompetisi. Pemaknaan
terhadap wacana yang muncul, baik wacana utama maupun wacana tandingan dianalisis
dengan mengacu pada
konteks sosial. Selanjutnya, ketersediaan ruang publik
sebagai arena berlangsungnya kompetisi wacana dapat diukur dari penggunaan
dimensi-dimensi kekuasaan, kapital, dan kebudayaan dalam proses produksi dan
reproduksi makna dari suatu wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
konstruksi makna masih didominasi oleh elit. Dominasi ini diindikasikan dari
penggunaan argumen-argumen yang bersifat legal, normatif, dan prosedural
sehingga mempersempit peluang munculnya wacana tandingan. Wacana figur
alternatif sebagai wacana
tandingan mengindikasikan ketidakpercayaan
masyarakat terhadap elit penguasa yang dinilai tidak mampu membawa perubahan
signifikan dalam praktik pemerintahan daerah. Dari ketiga dimensi yang
diteliti, dimensi kapital berpotensi besar untuk memperluas ruang publik
meskipun perannya dalam memunculkan wacana tandingan tidak terlepas dari kepentingan
akumulasi modal sehingga
perlu diimbangi dengan pengembangan kapasitas dua dimensi
lainnya.
Penulis: Caroline Paskarina
Kode Jurnal: jpsosiologidd060062