Perempuan Pekerja dan Kesehatan (Studi Tentang Bentuk Kekerasan Simbolik Perempuan Pekerja di home industry)
ABSTRAKSI: Penelitian ini
berusaha menjelaskan dan mendeskripsikan bentuk kekerasan simbolik perempuan
pekerja mbeji dalam home industry dengan
menggali secara mendalam makna sakit dan sehat bagi perempuan pekerja
mbeji. Mbeji adalah salah satu proses
produksi, dimana para pekerja menghadap mesin penghalus bahan yang akan
digunakan untuk membuat manik-manik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui bentuk kekerasan simbolik yang dialami perempuan pekerja mbeji di
home industry kerajinan kaca manik-manik di Desa Plumbon Gambang Kecamatan Gudo
Kabupaten Jombang. fenomena ini menjadi menarik untuk diteliti disebabkan
karena perempuan pekerja mbeji harus minum air bersoda saat mereka melakukan
pekerjannya.
Penelitian ini menggunakan teori Kekerasan simbolik oleh Pierre Bourdieu
sebagai kerangka analisisnya. Kekerasan simbolik hadir karena adanya upaya dari
pihak yang mendominasi untuk menyudutkan pihak yang didominasi. Menurut
Bourdieu, kekerasan simbolik sebagian besar terjadi pada perempuan, hal ini
disebabkan karena posisi perempuan dalam masyarakat selalu diletakkan pada
posisi kedua setelah laki-laki. lebih jauh lagi, pihak yang terdominasi
meyakini begitu saja tanpa mempertanyakan apa yang sudah terjadi kepada mereka,
dan mereka menerima begitu saja apa yang sudah menimpa mereka. kekerasan
simbolik bersifat lembut dan sangat abstrak sehingga para korbannya tidak
menyadari kekerasan yang mereka alami. Demikian yang terjadi dalam home
industry tersebut. para majikan dalam home indusry menerapkan sistem kerja
borongan, namun bersifat terikat. Adapun metode yang digunakan adalah metode
kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan yang dipilih disesuaikan
dengan kebutuhan data dan kedalaman informasi saat penelitian berlangsung.
Analisis data menggunakan horisonalisation dengan mencari kedalaman suatu makna
dari para informan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terjadi transformasi perubahan dari
kekerasan simbolik menuju kekerasan fisik. Para majikan membuat pola hubungan
kerja yang bersifat kekeluargaan dengan tujuan untuk mengikat para pekerjanya.
Rasa kekeluargaan tersebut tidak tampak mana kala saat pekerja sakit, majikan
tidak bertindak untuk membantu para pekerja. selain itu, majikan menghendaki
para pekerja saat pekerja meminta pinjaman untuk memenuhi kebutuhan yang
bersifat mendadak seperti untuk berobat. Selain itu, pekerja diwajibkan untuk
menyelesaikan pekerjaannya saat pesanan sedang ramai.
Dalam penelitian ini juga ditemukan adanya pemahaman terbalik dari para
pekerja terhadap upaya ntuk menjaga kesehatan. Resiko kerja seperti batuk,
sesak nafas, sakit mata, atau bahkan pilek dapat disembuhkan dengan minum air
bersoda. selain itu debu kaca yang dihasilkan dari gesekan bahan baku tersebut
juga dapat dilalurtkan dengan cara minum air bersoda. Namun, mereka tidak
memahami bahaya yang disebabkan akibat terlalu sering minum air bersoda.
Majikan tidak bertindak untuk menghentikan keadaan yang dialami pekerja tadi.
Dalam hal ini pula dapat diambil kesimpulan, bahwa saat pesanan ramai, pekerja
akan menambah resiko kerja dan bahaya bagi tubuh mereka, karena saat pesanan
ramai mereka juga harus minum air bersoda selama dua kali dalam satu hari.
Majikan sangat diuntungkan secara ekonomi dalam hal ini, tapi pekerja dirugikan
terutama bagi kesehatan mereka baik jangka pendek ataupun jangka panjang.
Penulis: ARIS SETIAWAN
Kode Jurnal: jpsosiologidd140223