FRAMING THE DIGITAL DIVIDE

ABSTRAK: Keberadaan  teknologi  informasi  komunikasi  (TIK),  seperti  internet,  menjadi pembahasan  diskusi  hangat  di  pelbagai  belahan  dunia.  Salah  satunya  yakni bagaimana  keberadaan  TIK  telah  mengubah  masyarakat  dunia  secara fundamental,  mengingat  keberadaan  teknologi  modern  dapat  menghubungkan beragam relasi di seluruh dunia secara virtual, bebas dari ruang dan waktu. Akan tetapi,  ditengah  hiruk-pikuknya  perkembangan  teknologi  komunikasi  yang mendunia,  masih  ada  daerah  terpencil  yang  memiliki  keterbatasan  dalam  akses teknologi.  Keterbatasan  inilah  yang  pada  akhirnya  menimbulkan  suatu  gejala sosial  yang  disebut  dengan  kesenjangan  digital  (digital  divide).  Metode  yang digunakan  dalam  penulisan  artikel  ini  adalah  studi  dokumentasi.  Selanjutnya, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan praktis dengan mengambil contoh kasus  Association  of  Progressive  Communication  (APC),  sebuah  lembaga  dunia yang  berkecimpung  dalam  memerangi  kesenjangan  digital  di  dunia  sebagai kerangka  dalam  menerapkan  pembahasan  secara  deskriptif.  Hasil  dari penelusuran  ditemukan  bahwa  digital  divide  muncul  sebagai  akibat  dari kurangnya  akses  kepada  TIK.  Faktor  yang  mempengaruhi  yakni  tidak  hanya karena  ketiadaan  sarana  dan  fasilitas,  akan  tetapi  juga  karena  minimnya pengetahuan  dan  kurangnya  motivasi  dalam  menggunakan  TIK.  Disisi  lain, program-program  yang  diterapkan  APC  untuk  memerangi  digital  divide terkadang  mengalami  kesuksesan  dan  kegagalan.  Di  Indonesia  pun,  keberadaan TIK  masih  menjadi  persoalan  utama  di  daerah  terpencil  mengingat  keberadaan perangkat keras dan piranti lunak telekomunikasi yang belum memadai. 
Kata kunci: teknologi informasi komnikasi, kesenjangan digital
Author: Andi Windah
Journal Code: jpsosiologigg130002

Artikel Terkait :